Minggu, 25 Mei 2014

Something about Problem



" What makes a problem to be the problem itself
is
that we don't know the best thing to do."

A Little Girl with Droopy Eyes and Black Straight Hair

- A Little Girl with Droopy Eyes and Black Straight Hair -


There will be always an awkward moment when we're opening the old pages of our life.

Times we spent, days we past and messages we made.
Yeah, time's going so fast.

One thing.

You did a great decision by taking the great one to be beside you.
Now, it seems like you've been really enjoying your trip.

So that, you'll be stepping your feet more steadily and more confidently.

Maybe i'll be doing that at the different time, not now.

But once, congrats!

Fate and Reality

- Fate and Reality -


Maybe, there are instantaneous ways to avoid an insanity.

So that, people filled their needs by walking through the different ways too.

Seems like we don't have to argue, because everything is set to be broken from the beginning.

That's a fate and that's a reality.

There will be always sacrifices and there will be always pretendences.

Like it or not, that's life.

Some stay, some leave and then some wipe. This is life.

 
"Some Stay, Some Leave and then Some Wipe.

This is Life."


"Kita Semua Setan"


Katanya, jika kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar dan tidak, atau yang baik dan buruk. Inilah kenyataannya saat ini.

Atau mungkin sebelumnya juga sudah seperti bagaimana adanya.


Sementara, sambil lalu kita terus-menerus mencoba untuk menutup mata, telinga, hati, pikiran dan segenap perasaan. 


Perlahan-lahan timbul tenggelam didalam lautan kemunafikan dan hanyut terbawa arus kesesatan.



 

Saat ada setan memanggil, kita menghampirinya.

Saat sang setan mendekat dan menawarkan jabat tangan, kita menjabatnya.

Saat sang setan berkata, lalu turut pula kita mengiyakannya.

Saat sang setan memerintah, dengan senang dan buta hati kita melakukan perintahnya.

 

Secara sadar atau tidak, kita telah menjadi bagian darinya.

Lalu, semua akan terlihat sama.
 

Kita semua adalah sama.
 

Dan kita semua adalah setan.

Minggu, 18 Mei 2014

"Take nothing, but photographs. Leave nothing, but footprints." (Gunung Gede 2958 Mdpl)


"Take nothing, but photographs. Leave nothing, but footprints."

 01 Mei 2014
(Gunung Gede 2958 Mdpl)


Seketika, kulihat gerayang kabut berjalan menutupi rerimbunan pohon yang berlapis tebing besar nan lebar.
Seketika pula, kulihat hamparan awan yang bergerak menyeruak di depan pijakan kakiku.
Seolah-olah mereka merayu kepadaku, mengajakku jauh bercumbu dan mungkin tak kembali lagi.
Saat kutarik nafasku dalam-dalam, aku tertegun, mencoba mengingat apa yang telah kami bertiga lewati berjam-jam yang lalu.

Dalam pekatnya malam,
kami menjejaki kesunyian hutan yang kadang diselingi suara hembusan angin yang menerpa pepohonan.
Desah suara hembusan nafas yang berat turut memecah pula kesunyian malam itu.
Sementara tak jarang pula, tarikan-tarikan nafas kami gagal mencapai klimaksnya.
Aku pun merasa bahwa perjalanan ini merupakan perjalanan yang cukup berat bagiku.
Cukup berat bagi manusia perkotaan modern, yang biasa dimanjakan oleh kemutakhiran teknologi mesin-mesin beroda.
Pada saat itu, aku tidak dapat menyombongkan diriku layaknya seorang ksatria yang sedang memecut kuda besinya, untuk melaju dengan pesat.

Yang kami rasakan pada saat itu mungkinlah sama.
Yang sangat mungkin kami rasakan saat itu adalah kami hanya bisa mengandalkan diri kami sendiri sepenuhnya.
Kami hanya bisa mengandalkan tumpuan kedua kaki-kaki kami.
Kami hanya bisa berjalan dan terus berjalan, atau hawa dingin akan menghabisi kami.
Walaupun sesekali kami berhenti untuk menghela nafas panjang dan berbaring diatas bebatuan lembab dan dingin,
demi mengumpulkan kembali semangat untuk terus bergerak dan berjalan dalam dinginnya malam.

Pada akhirnya, kami dapat mencapai tujuan kami.
Sebuah tempat beserta suasana yang sekiranya membuahkan rasa rindu untuk kembali, dan kembali lagi.
Sebuah tempat dimana kami dapat menertawakan puas keberhasilan kami dalam melawan rasa pesimis kami.
Sebuah tempat yang menyadarkan kami betapa kecilnya kami di hadapan-Nya.
Dan sebuah tempat yang memberi pelajaran kepada kami mengenai kebersamaan dan kepedulian, sebagai manusia.
Karena mendaki bukan hanya mengenai seberapa kuat kaki dan pundak kita memangku beban.
Dan bukan pula hanya mengenai seberapa cepat kita membekaskan jejak-jejak kaki kita.