Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung!
Baik, katakanlah saya orang yang seringkali mengeluh. Akan tetapi, saya masih mengganggap bahwa keluhan-keluhan saya selama ini masih dalam batas kewajaran dan termasuk sesuatu yang pantas untuk dilakukan. Walaupun, saya sering mendapati kata-kata motivasi yang menyebutkan bahwa mengeluh itu bukanlah sesuatu hal yang bagus atau baik untuk dilakukan. Persepsi saya, sebuah keluhan itu hukumnya adalah sah apabila didasari oleh sesuatu yang benar-benar dinilai sebagai sebuah kondisi yang tidak menguntungkan. Kecuali kalau kita mengeluh, tapi kita sendiri tidak memiliki alasan mengapa kita mengeluh. Contohnya saja, seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Mungkin bukan cuma saya saja yang merasa kalau akhir-akhir ini cuaca atau hawa atau udara di jakarta sangat tidak bersahabat. Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung! (*bukan pasukan nasi bungkus lho ya). Bahkan, media informasi pun sempat mengabarkan bahwa suhu di Jakarta pada siang hari mencapai 39 derajat Celcius. Jempol!
Dan pastinya, bukan hanya saya saja yang sekiranya mengeluhkan kondisi cuaca yang sedemikian rupa ini. Tetapi keluhan belum selesai sampai disini saja. Di tengah panasnya udara dan di tengah panasnya kondisi perpolitikan di Indonesia, terutama di gedung DPR MPR dan selintingannya, ada saja kelakuan segelintir orang yang perbuatannya tidak dapat saya mengerti tujuannya. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ini, yang seenaknya saja melakukan fogging dengan mem-BABI-buta di lingkungan rumah tempat saya menumpang tinggal dengan kedua orangtua saya, dengan membakar sampah-sampah karet dan sampah lainnya, yang pada akhirnya menyisakan ampas berupa asap-asap pekat dan berbau tengik. Kalau saja yang dibakar adalah daun-daun ganja kering, mungkin saya tidak mempunyai cukup waktu untuk mengeluh dan menulis postingan ini. Karena yang akan bisa saya lakukan hanya nyengir dan tertawa gak jelas sepanjang hari.
Pagi, siang, sore malam, sampai pagi lagi, terus tercium aroma sisa-sisa pembakaran sampah di lingkungan tempat saya tinggal. Sejujurnya, saya lebih ikhlas menghirup aroma dari asap rokok yang dihembuskan orang satu RT sekalipun. Dibandingkan saya harus menghirup aroma tengik atau apalah itu namanya. Lebih ikhlas lagi kalau saya menghirup sendiri asap rokok yang saya hisap sendiri, daripada "dipaksa" untuk menghirup sumber penyakit yang menurut saya lebih parah dari asap rokok berbau kemenyan sekalipun. Apalagi jika sampai seisi rumah yang "dipaksa" harus menghirupnya. Terlebih, pemaksaan adalah sama dengan pemerkosaan. (*Halah!). Namun berhubung saya beserta keluarga menjunjung tinggi rasa toleran yang tinggi dan tidak menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan emosi, kami hanya berharap kalau aktivitas bakar-bakaran laknat itu dengan cepat berakhir. Dan keadaan di lingkungan tempat saya tinggal kembali aman dan nyaman, seperti sedia kala, sama seperti sebelum Negara Api menyerang. Wkwkwkwk....
Salam Super!
Pagi, siang, sore malam, sampai pagi lagi, terus tercium aroma sisa-sisa pembakaran sampah di lingkungan tempat saya tinggal. Sejujurnya, saya lebih ikhlas menghirup aroma dari asap rokok yang dihembuskan orang satu RT sekalipun. Dibandingkan saya harus menghirup aroma tengik atau apalah itu namanya. Lebih ikhlas lagi kalau saya menghirup sendiri asap rokok yang saya hisap sendiri, daripada "dipaksa" untuk menghirup sumber penyakit yang menurut saya lebih parah dari asap rokok berbau kemenyan sekalipun. Apalagi jika sampai seisi rumah yang "dipaksa" harus menghirupnya. Terlebih, pemaksaan adalah sama dengan pemerkosaan. (*Halah!). Namun berhubung saya beserta keluarga menjunjung tinggi rasa toleran yang tinggi dan tidak menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan emosi, kami hanya berharap kalau aktivitas bakar-bakaran laknat itu dengan cepat berakhir. Dan keadaan di lingkungan tempat saya tinggal kembali aman dan nyaman, seperti sedia kala, sama seperti sebelum Negara Api menyerang. Wkwkwkwk....
Salam Super!