Sabtu, 25 Oktober 2014

Darah itu merah, jenderal! Dan Jakarta itu panas, bung!

Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung!


Baik, katakanlah saya orang yang seringkali mengeluh. Akan tetapi, saya masih mengganggap bahwa keluhan-keluhan saya selama ini masih dalam batas kewajaran dan termasuk sesuatu yang pantas untuk dilakukan. Walaupun, saya sering mendapati kata-kata motivasi yang menyebutkan bahwa mengeluh itu bukanlah sesuatu hal yang bagus atau baik untuk dilakukan. Persepsi saya, sebuah keluhan itu hukumnya adalah sah apabila didasari oleh sesuatu yang benar-benar dinilai sebagai sebuah kondisi yang tidak menguntungkan. Kecuali kalau kita mengeluh, tapi kita sendiri tidak memiliki alasan mengapa kita mengeluh. Contohnya saja, seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Mungkin bukan cuma saya saja yang merasa kalau akhir-akhir ini cuaca atau hawa atau udara di jakarta sangat tidak bersahabat. Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung! (*bukan pasukan nasi bungkus lho ya). Bahkan, media informasi pun sempat mengabarkan bahwa suhu di Jakarta pada siang hari mencapai 39 derajat Celcius. Jempol!
Dan pastinya, bukan hanya saya saja yang sekiranya mengeluhkan kondisi cuaca yang sedemikian rupa ini. Tetapi keluhan belum selesai sampai disini saja. Di tengah panasnya udara dan di tengah panasnya kondisi perpolitikan di Indonesia, terutama di gedung DPR MPR dan selintingannya, ada saja kelakuan segelintir orang yang perbuatannya tidak dapat saya mengerti tujuannya. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ini, yang seenaknya saja melakukan fogging dengan mem-BABI-buta di lingkungan rumah tempat saya menumpang tinggal dengan kedua orangtua saya, dengan membakar sampah-sampah karet dan sampah lainnya, yang pada akhirnya menyisakan ampas berupa asap-asap pekat dan berbau tengik. Kalau saja yang dibakar adalah daun-daun ganja kering, mungkin saya tidak mempunyai cukup waktu untuk mengeluh dan menulis postingan ini. Karena yang akan bisa saya lakukan hanya nyengir dan tertawa gak jelas sepanjang hari.
Pagi, siang, sore malam, sampai pagi lagi, terus tercium aroma sisa-sisa pembakaran sampah di lingkungan tempat saya tinggal. Sejujurnya, saya lebih ikhlas menghirup aroma dari asap rokok yang dihembuskan orang satu RT sekalipun. Dibandingkan saya harus menghirup aroma tengik atau apalah itu namanya. Lebih ikhlas lagi kalau saya menghirup sendiri asap rokok yang saya hisap sendiri, daripada "dipaksa" untuk menghirup sumber penyakit yang menurut saya lebih parah dari asap rokok berbau kemenyan sekalipun. Apalagi jika sampai seisi rumah yang "dipaksa" harus menghirupnya. Terlebih, pemaksaan adalah sama dengan pemerkosaan. (*Halah!). Namun berhubung saya beserta keluarga menjunjung tinggi rasa toleran yang tinggi dan tidak menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan emosi, kami hanya berharap kalau aktivitas bakar-bakaran laknat itu dengan cepat berakhir. Dan keadaan di lingkungan tempat saya tinggal kembali aman dan nyaman, seperti sedia kala, sama seperti sebelum Negara Api menyerang. Wkwkwkwk....

Salam Super!

Jumat, 24 Oktober 2014

Pula,

waktu hanyalah sebuah istilah.

Gambaran mengenai tadi, sekarang dan nanti.

Bisa hari ini, esok ataupun lusa.

Sama seperti rindu,

gambaran pengharapan diri ini kepadamu setiap waktu.
" If everything is all set to be broken from the beginning,
there must be a reason why it is kept to stand up for so long. "
" For some different reasons, people do different actions too.

And for some chances, people sometimes interact to others by using different masks. " 

Kamis, 23 Oktober 2014

"Bosan"


Hei,
kamu yang ada disana,
jingganya pelangi dalam hatiku,
alamat dari semua tulisan-tulisanku

Aku ingin kau tahu,
turut pula kau mengerti
Jikalau aku sudah lama bosan,
amat sangat sejadi-jadinya

Aku memang bosan,
tapi bukan kepadamu
Bukan kepada senyummu,
bukan pula kepada kantong matamu

Dalam hati, ku hanya berkata
Lewat kata, ku hanya dapat berbicara
Dan lewat foto, ku hanya dapat menatapmu
Dan selalu begitu saja

Inginku kita saling berbagi,
dapat pula saling mengasihi
Walau hanya sekali waktu,
dan tak ada lagi waktu yang kumiliki

Rabu, 22 Oktober 2014

Aku. Dan Masih.
 

Selalu saja, kuamati setiap gerak dalam keramaian
Kucoba terus mengolah rasa, merangsang peka
Akan tetapi, tetap saja hampa yang kurasa
Dan pergolakan dalam batinku,
selalu saja terjadi dan terus terjadi

Lambat laun, ku semakin terlelap
Sambil lalu, terbenam dalam cercaan yang sama
Aku selalu saja begini, ingin begitu pun selalu begini
Sejatinya, satu saja inginku,
untuk dapat selalu mengabaikan risau-risauku

Aku bagaikan seorang pelacur,
bahkan serendah-rendahnya pelacur
Aku tidak mengimpikan materi, apalagi kemaluan semata
Aku hanya ingin bebas, melangkah tanpa beban
Turut pula ku mencapai tujuan, walaupun semua bukan tanpa ujian

Ohh, wahai langit
Kapan lagi ku dapat terlena dan menikmati senjamu
Ia yang selayaknya bidadari, meski berkalang arak-arakan awan
Ia yang selalu mampu memberikan kedamaian,
bagi siapa saja yang menikmati keindahannya
Ahh..


Ahh..
Nyaliku memang,
tidak lebih besar dari nyali seekor nyamuk.
Nyaliku bahkan,
mungkin tidak lebih dari serangkaian abjad,
yang hanya menyusun sebuah kata,
bahkan hampir tanpa makna.
Bagai sebuah kekuatan tidak kasat mata,
yang terbelenggu dalam cucuran perasaan.
Rasa bersalah, rasa takut, rasa ragu,
dan tak jarang keputusasaan.

Ahh..
Lagi-lagi pikirku,
mati itu indah, pula terlihat damainya.
Terlebih, jika aku menentukannya sendiri.
Atau lebih tepatnya, kudahului takdir oleh-Nya
Daripada, semakin berkalang kecut jiwa ini,
pula seraya menikmati kesia-siaan, lagi dan lagi.
Seolah-olah, pikiran dan kata-kata,
tetap menjadi bagaimana adanya mereka.

Ahh..
Aku memang telah lama mati.
Semenjak mimpi-mimpiku terdahulu,
tiada pernah tersambut.
Waktu itu memang, mereka bagai terhalang kabut.
Kadang jelas dan kadang samar.
Dan seorang pendaki terhebat sekalipun,
masih dapat menemukan remah-remah gairahnya.
Meskipun, ia sedang menatap gunung yang sering didakinya.
Karena, kesannya akan selalu membekas.

Ahh..
Pada akhirnya, sebuah kesan,
hanya kenaifan yang dapat menyamarkannya.
Kecuali, jika memang takdir yang berkehendak.
Sayangnya, lagi-lagi aku tidak dapat berkuasa akan waktu.
Tidak dapat pula mengikatnya dengan janji.
Karena hanya takdir yang dapat mengikatnya,
sementara takdir adalah kuasa-Nya.

Minggu, 05 Oktober 2014

Tentang Perasaan

Tentang Perasaan


Kau pasti tahu,
daun-daun yang telah tua, akan tiba saatnya bagi mereka untuk jatuh berguguran

Namun, kau mungkin tak tahu,
bagaimana perasaan ini terkubur dan mengendap di lubuk hatiku yang paling dalam

Kenyataannya memang,
rasa cintaku memang ditakdirkan untuk singgah di tempat yang salah,
terus tumbuh melebat, sampai mengakar dan mungkin takkan tercabut

Tetapi jangan kau samakan cintaku dengan batang singkong,
ataupun semak belukar yang bebas tumbuh dan dapat dicabut hingga tak bersisa

Katakan saja aku tolol, bodoh, naif, nestapa atau apapun itu

Aku memang begitu.
Karena aku sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan,
yang jawabannya sudah kuketahui pasti, bahkan sebelum aku memikirkannya

Begitupula, dengan ungkapan-ungkapan yang ku persembahkan untukmu

Mungkin semua hanya sia-sia belaka

Tetapi, aku memang begitu

Setidaknya masih sampai saat ini, karena esok dan seterusnya, aku tak berkuasa atasnya

Jumat, 03 Oktober 2014

Teruntuk kawan, sahabat seperjuangan Teknik Elektro Paralel Ekstensi 2011

Setiap kuncup bunga yang berasal dari pohon yang sama, sejatinya mereka akan tumbuh mekar dengan wangi yang sama semerbaknya.

Walaupun, perilaku tumbuhkembangnya bergantung pula pada tingkat kesuburan, tingkat ketahanannya pada cuaca/iklim serta takdirnya sendiri yang menjadikannya seperti terlihat adanya.

Senada dengan sebuah kebersamaan, karena akan selalu ada perpisahan dibelakangnya.

Kenangan yang manis akan selalu menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang dan perpisahan tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk.

Perpisahan kali ini adalah sebuah kebanggaan, jadi berbanggalah kawan.

Karena setapak demi setapak langkah yang akan dijejakkan, akan mengiringi setiap sosok ke masa depan yang lebih baik lagi dan lebih manis lagi.




Teruntuk kawan, sahabat seperjuangan Teknik Elektro Paralel Ekstensi 2011.

YOLO!

" When you feel that you're the only one experiencing the hardest part of your life,
maybe you just don't know the way how to thank to God for every breath you take and for every chance you get.
So, you shall take a look around, and you will see what in the world is going on and how the people attempt to make deals with their last chance. YOLO! "