Rabu, 22 Oktober 2014

Ahh..


Ahh..
Nyaliku memang,
tidak lebih besar dari nyali seekor nyamuk.
Nyaliku bahkan,
mungkin tidak lebih dari serangkaian abjad,
yang hanya menyusun sebuah kata,
bahkan hampir tanpa makna.
Bagai sebuah kekuatan tidak kasat mata,
yang terbelenggu dalam cucuran perasaan.
Rasa bersalah, rasa takut, rasa ragu,
dan tak jarang keputusasaan.

Ahh..
Lagi-lagi pikirku,
mati itu indah, pula terlihat damainya.
Terlebih, jika aku menentukannya sendiri.
Atau lebih tepatnya, kudahului takdir oleh-Nya
Daripada, semakin berkalang kecut jiwa ini,
pula seraya menikmati kesia-siaan, lagi dan lagi.
Seolah-olah, pikiran dan kata-kata,
tetap menjadi bagaimana adanya mereka.

Ahh..
Aku memang telah lama mati.
Semenjak mimpi-mimpiku terdahulu,
tiada pernah tersambut.
Waktu itu memang, mereka bagai terhalang kabut.
Kadang jelas dan kadang samar.
Dan seorang pendaki terhebat sekalipun,
masih dapat menemukan remah-remah gairahnya.
Meskipun, ia sedang menatap gunung yang sering didakinya.
Karena, kesannya akan selalu membekas.

Ahh..
Pada akhirnya, sebuah kesan,
hanya kenaifan yang dapat menyamarkannya.
Kecuali, jika memang takdir yang berkehendak.
Sayangnya, lagi-lagi aku tidak dapat berkuasa akan waktu.
Tidak dapat pula mengikatnya dengan janji.
Karena hanya takdir yang dapat mengikatnya,
sementara takdir adalah kuasa-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar