One day, one post (or more) - [Postingan ke-14]
Hujan yang turun begitu derasnya tadi, menyisakan pemikiran akan sesuatu yang seharusnya kusadari dari dulu.
Dia akan kembali untuk seseorang disini.
Atau dia akan tetap disana untuk seseorang lainnya, bukan untuk diriku atau untuk Joko.
Joko selalu mempersiapkan hatinya untuk segala kemungkinan yang ada. Kemungkinan yang terbaik bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Dalam hal ini, Joko memang seorang yang sangat gigih. Beberapa kali ia pernah mengutarakan maksud hatinya kepada wanita yang dicintainya itu, walaupun setiap kalinya berujung dengan penolakan halus.
Tapi, bukan Joko namanya kalau ia tidak memperhitungkan segalanya dengan matang. Bahkan ia selalu memperkirakan hasil yang akan ia dapat, sebelum ia mengambil sebuah keputusan. Ia bukanlah tipe orang yang berjalan tanpa arah dan pemikiran-pemikiran kritis.
Suatu kali ia pernah mengutarakan sebuah pengakuan kepada wanita yang dicintainya itu, dan saat itu ia memang tidak mengharapkan agar pernyataan pengakuannya tersebut mendapat balasan. Tetapi pada hakekatnya, pengakuan itu kurang lebih seperti sebuah permohonan tersirat yang menanyakan kesediaan akan sesuatu. Terlebih kepada wanita yang telah dicintainya selama bertahun-tahun dan hampir tidak alasan untuk memalingkan hati dan perasaan.
Joko begitu mengenal wanita itu, jauh lebih dalam daripada yang ku ketahui selama ini.
Wajar saja, ia dengan begitu gigihnya menambatkan hatinya pada wanita itu sehingga ia berani mengatakan bahwa perasaannya kepada wanita pujaannya itu bagaikan akar pohon yang semakin hari tumbuh besar, untuk mencengkeram sebidang tanah yang dihinggapinya dengan eratnya.
Ia bahkan masih menyimpan dengan segenap hatinya, sebuah benda kenangan yang pernah diberikan wanita itu beberapa tahun silam. Dengan harapan ia masih memiliki kesempatan untuk menunjukkannya kepada wanita itu dan membuktikan bahwa ia telah menjaga perasaan dan hatinya selama berbelas-belas tahun untuk dapat bersanding dengan wanita itu suatu saat.
Sama seperti ia menjaga benda pemberian wanita itu selama berbelas-belas tahun pula, dengan sepenuh hatinya.
Sementara aku??
Sejujurnya, aku tidak memiliki benda apapun dari wanita itu. Darinya.
Aku hanya pernah menangkap senyumnya beberapa kali kesempatan. Yang tanpa kusadari memunculkan sebuah perasaan yang tidak biasa. Perasaan yang aku sendiri tidak mengerti kenapa kemudian perasaan ini dapat tumbuh dan sepertinya akan bersemayam untuk sekian lama.
Dan nyatanya, perasaan ini memang telah bersemayam dalam kalbu. Bersemayam dalam lubuk hati yang paling terdalam. Aku rasa, diri ini hanya mencintainya secara sederhana. Sesederhana diri ini dapat dengan mudahnya menumbuhkan bibit-bibit perasaan yang kemudian tumbuh bersemi dengan cepatnya. Aku menikmati bagaimana cara dia tersenyum dan bagaimana dia berkata-kata. Aku turut menikmati pula bagaimana dia bersikap, dan selalu menebar keceriaan dengan senyumannya.
Dia merupakan inspirasi bagiku, sebuah inspirasi yang nyata. Bukan seperti tulisan-tulisan ataupun kata-kata yang selebihnya nampak sebagai omong kosong belaka bagi sebagian orang.
Dan aku pun tidak ingin melewatkan sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang di lain waktu.
Pernah sekali kuungkapkan rasa kagumku kepadanya pada suatu siang, lewat sebuah tulisan. Karena untuk saat itu, hanya itu yang dapat kulakukan. Mengingat jauhnya rentang jarak yang membentang diantara kami berdua. Tiba-tiba saja keinginan itu terlintas, dan secara spontanitas aku melakukannya saat itu juga. Aku hanya berharap dia membacanya, walau nantinya dia mengabaikannya dan tidak niatan sedikitpun dibenaknya untuk membalas tulisan tersebut.
Tetapi tidak. Karena dia membalasnya. Dia membalas tulisanku yang berisikan kekaguman-kekagumanku akan dirinya dan segala sesuatu yang kuingat tentangnya. Dia mungkin bisa membaca kepesimisanku saat itu, apa yang sedang kurasakan saat itu. Mungkin karena hal itu pula, dia memberiku kata-kata semangat lewat tulisan balasannya. Ahh, dia memang wanita yang begitu istimewa.
Dan aku rasa aku sudah sangat beruntung karena pernah mendapat lemparan senyumnya. Karena aku bukanlah siapa-siapa baginya. Aku hanya seseorang yang sebentar pernah mengenalnya dan tiba-tiba memiliki perasaan yang seharusnya tidak pantas untuk kumiliki. Apalagi aku ketahui bahwa saat ini dia telah menambatkan hatinya kepada seseorang disana. Bukan Joko, apalagi diriku yang nista ini. Aku dapat melihatnya dari lembaran bingkai-bingkai imaji yang dia ambil sesekali waktu, ketika bersama dengan pria itu.
Seperti kata orang memang, hidup itu tidak dapat ditebak. Kadang apa yang kita anggap tidak mungkin terjadi bahkan tidak terpikirkan sekalipun, akan dapat terjadi tanpa kita sadari. Namun alangkah lebih baik jika itu yang terjadi. Dibandingkan kita mendapatinya secara sadar dan membiarkannya terjadi walaupun kita tahu itu tidak pantas terjadi dan untuk kita alami.
Begitupula dengan perasaan.