One day, one post (or more) - [Postingan ke-10]
Tentang imajinasi..
Tentang imajinasi..
Hari Senin.
Hari dimana orang-orang kembali bertemu dengan keadaan yang hectic dan serba terburu-buru. Saya bisa bilang demikian, karena pagi ini saya berlaku sebagai saksi mata sekaligus pelakunya. Hahaha..
Hari dimana orang-orang kembali bertemu dengan keadaan yang hectic dan serba terburu-buru. Saya bisa bilang demikian, karena pagi ini saya berlaku sebagai saksi mata sekaligus pelakunya. Hahaha..
Semua ingin dapat bergerak cepat.
Semua ingin menjadi yang terdepan.
Semua ingin penguasa jalan.
Hal yang sangat amat lumrah ditemui di kala Senin pagi di jalanan Ibukota.
Kali ini, saya ingin membuat tulisan singkat tentang imajinasi. Katakanlah pula mimpi, impian dan segala hal yang berhubungan akannya. Keinginan ini muncul ketika saya berjuang pasif sendirian melawan sambaran kencang angin, yang berhembus dari dua asal dan sisi yang berbeda. Tiba-tiba saja saya berimajinasi. Seketika saya membayangkan diri saya menjadi seorang pemain gitar yang handal, tanpa cela. Tentu ini tidak ada hubungannya dengan angin bahkan perjuangan saya melawan angin tersebut. Namanya saja imajinasi, bisa secara sadar hadir, bisa juga tidak. Yang jelas, saya masih tetap setia duduk di depan laptop saya sambil mendengarkan playlist lagu di laptop saya tersebut.
Saya membayangkan bahwa ketika saya menjadi seorang pemain gitar yang piawai memainkan gitar, saya hampir tidak akan berada pada momen dimana kesepian menjadi momok. Walaupun saya sedang berada di tempat yang jauh sekalipun dan tanpa ada satu orang pun yang saya kenal saat berpapasan. Saya membayangkan bahwa saya akan selalu merasa damai dan bahagia ketika jari-jari jemari saya memetik senar demi senar. Dan saya tetap akan menikmati irama nada, bahkan untuk irama-irama bernada pesimis sekalipun. Lalu saya berjalan menyusuri lika-liku perjalanan hidup saya yang telah digariskan sebelumnya, dengan selalu menggendong gitar dipunggung saya. Saya ingin berjalan tanpa keraguan-raguan, ketakutan akan menghadapi masa depan.
Tanpa peduli sedikitpun kalau orang-orang di sekitar saya telah banyak yang menjadi buas. Rakus dan saling memakan antar sesamanya.
Tanpa peduli bagaimana saya harus memperlakukan orang-orang di sekitar saya dan apa yang akan mereka perlakukan kepada saya sebaliknya.
Tanpa peduli berapa lama lagi saya hidup di alam semesta ini.
Tanpa memiliki kekhawatiran tentang hal-hal yang tidak dapat saya perbuat.
Semua itu karena saya begitu mencintai diri saya. Mencintai apa yang dianugrahkan-Nya kepada saya. Dan saya akan merasa bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bahkan kiamat sekalipun.
Terkesan berlebihan memang, namun imajinasi tidak memiliki batas. Bebas. Tidak terikat.
Terkesan berlebihan memang, namun imajinasi tidak memiliki batas. Bebas. Tidak terikat.
Sekali lagi, tanpa batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar