"When i start hating someone,
i always try to neutralize my feeling by remembering the good things we ever did.
That's all the way i usually do.
It can be trusted or not.
Because, i also don't have a will to make everyone believe about the reality.
And i think that each of us has our own thoughts for appraising something,
based on our own natural perspectives :)"
===============
Sepenggal cerita..
Hidup dalam lingkungan yang universal bagi saya merupakan garis tangan kita sebagai manusia yang dituntut untuk memiliki jiwa dan kepekaan sosial yang tinggi. Kita dituntut untuk dapat melakukan adaptasi yang baik dan pretensi yang cenderung mendekati kesempurnan. Dan hal tersebut bukanlah perkara yang dapat dengan mudah dilakukan. Menjadi diri sendiri di tengah-tengah lingkungan sosial yang majemuk nampaknya bukanlah pilihan yang bijak untuk dilakukan. Banyak norma-norma dan batasan-batasan pada kondisi ini yang menuntut kita mengendalikan ego kita, dalam berpikir, bertutur dan bersikap.
Kadang saya membayangkan posisi saya sebagai diri saya sendiri ketika menghadapi suatu kondisi yang sekiranya menurut saya adalah palsu.
Semu.
Munafik.
Sementara saya sendiri, sama.
Seketika, saya ingin bangun dari lantai sembari berteriak keras-keras.
Saya ingin berteriak "Bangsaaaaaattttttt....!"
Saya ingin pula berteriak "Brengseeeeeeekkkkkk....!"
Saya ingin berteriak "Dasar jalang!"
Saya ingin berteriak "Anjing!"
Tetapi tidak..
Tidak, sekali lagi..
===============
Saya bukanlah binatang. Saya bukanlah anjing yang kandangnya diguncang-guncangkan atau dilempari batu oleh sekumpulan bocah ingusan yang bahkan kencing saja belum lurus.
Saya bukanlah wanita penghibur yang ditinggal kabur oleh pelanggannya dalam keadaan setengah telanjang, menutupi payudara dan kemaluannya dengan handuk hotel.
"Pelayanannya kurang", kata si pelanggan.
"Bayarannya kurang", kata si jalang.
Saya bukanlah remaja tidak tahu diri, yang lari dari rumah sembari menggebrak pintu kamar karena tidak jadi dibelikan telepon genggam model terbaru oleh orangtuanya.
Sementara teman-teman sebaya memamer-mamerkan telepon genggam baru mereka di depan remaja-remaja perempuan yang sedang mereka taksir.
Saya bukanlah seorang laki-laki dewasa yang baru mengetahui bahwa pacarnya pergi menikah dengan laki-laki bangsat yang sering mencumbui pacarnya dengan ke-masakini-an dan ke-masadepan-an yang realistis.
"Maafkan aku sayang, tapi harta orangtuanya lebih menjanjikan daripada janji-janji dan juga mimpi-mimpimu", kata si perempuan.
===============
Untungnya, batangan-batangan tembakau bercengkeh masih dapat menyelamatkan "kegilaan" saya. Saya menyematkan batangan demi batangan rokok saya ke dalam mulut lalu memainkannya dengan menggunakan jari jempol, telunjuk dan jari tengah saya.
Bagi saya, saya bebas untuk mendengar dan saya bebas untuk berhenti mendengar semau saya.
Terutama untuk hal-hal yang anggap omong kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar