One day, one post (or more) - [Postingan ke-16]
Tiap helaan nafas ini hampir selalu terasa berat kurasa.
Karenanya, tidak akan kulewatkan lagi satu persatu hela nafas yang kuhirup.
Lalu biar masuk semua ke dalam rongga paru-paru yang busuk ini.
Seakan-akan sedang kucoba gapai asa-asa kehidupan,
yang perlahan-lahan mulai menghilang, bertebaran hingga ke langit ketujuh.
Bertebaran kesana kemari, menari-nari kembali dalam angan-angan semu.
Satu persatu malam, hari demi hari, kurangkai semua imaji dalam mimpi.
Dan satu persatu pula, kudapati semua imaji itu tetap menjadi imajinasi.
Akan tetapi,
sosokmu masih kulihat jelas dalam imajiku saat ini.
Lewat kedua bibirmu yang menari dalam sebuah lengkung,
yang pernah kutangkap dalam ego dan kenaifanku saat itu.
Ya, aku yang saat itu bukanlah aku, melainkan keakuanku.
Aku yang mencoba mengakukan diriku dengan memenjarakan segenap rasa,
pasrah kepada keakuan yang kubuat-buat.
Dan kemudian seperti tak berdaya, perlahan mati dalam kemaluan.
Aku yang mencoba mengakukan diriku dengan memenjarakan segenap rasa,
pasrah kepada keakuan yang kubuat-buat.
Dan kemudian seperti tak berdaya, perlahan mati dalam kemaluan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar