Sabtu, 29 November 2014

Jarak Sejengkal Jari

Jarak Sejengkal Jari


Wahai kau wanita,
tak lagi sempat kutatap lekat-lekat matamu
Pula binar pada wajahmu,
hanya dapat kurasa dalam untai-untaian kata
Hanya kata, dan bukan suara

Selalu saja,
kebisuan seolah menjelma menjadi jarak yang tak dapat terukur
Walau sejengkal jari pun,
kuletakkan diantara kedua lengan kita,
Semua tetap sama, tiada berbeda

Tas Hitam

Tas Hitam


Tas hitam itu, warnanya kian memudar
Jahitan-jahitannya yang kokoh, sudah mulai terlepas
Sama seperti impian-impiannya pemiliknya
Satu-persatu dan tanpa ragu

Ia mulai usang, beriaskan debu jalanan
Namun terpakai tak sebagaimanamestinya
Tapi ia tak dapat berbuat banyak,
selain tetap mengemban tugas dari pemiliknya

Teringat kembali olehku, janjiku kala itu
Kelak kubuat ia selalu menyertaiku,
beserta apa yang menjadi mimpiku saat itu
Pun saat ini, masih pula aku bermimpi

Aku mungkin telah salah mengucap doa
Kata-kataku kini telah menjadi realita
Mimpi tetaplah mimpi, dan aku masih belum beranjak
Di tempat dimana dulu aku berpijak, aku tak lagi layak

Malam itu di Kota Tua

Malam itu di Kota Tua


Perlahan petang datang,
dan malam pun menjelang
Kerlap-kerlip lampu yang menyala,
laksana riasan seorang perawan tua

Malam itu di kota tua,
tetap sama seperti biasanya
Perlahan aku melangkahkan kaki,
dan sejenak aku sesekali berhenti

Sudah, begitu saja
Dan tetap begitu saja sesudahnya
Berbatang-batang rokok kunyalakan,
dan berbatang-batang pula kuhabiskan

Tak pernah jelas apa yang kucari
Dan tak jelas pula apa yang kunanti
Aku hanya mengikuti naluri
Meresapi sepi di hati

Sepi..

Sewindu

Sewindu


Barang sewindu kita tak berbicara,
tak pernah pula kita bertegur sapa
Halte itu masih berdiri disana,
tempat kita menunggu bersama

Urusan hati, siapa yang sangka?
Jikalau benci, takkan duduk kita bersama
Jikalau cinta, pun kita tidak saling suka
Mungkin, barang sewindu lagi kita tahu jawabannya

Gelap Tak Selamanya Malam

Gelap Tak Selamanya Malam


Gelap tak selalu gelapnya malam

Saat rindu ini meraja, semua terasa gelap

Akan tetapi, hujan tak selalu disertai mendung

Dan rindu tak selamanya merana

Selama ada kasih di dalam hati,
pula segala keindahan terus menjadi

Sabtu, 08 November 2014

Keliru

Keliru


Aku memang sering keliru
Satu orang diantara beribu
Mungkin, aku bukanlah satu-satunya
Namun hati ini, selalu milikmu sepenuhnya

Kau, ibaan hatiku

 Kau, ibaan hatiku


Tak akan pernah habis ku berujar
Kau memang yang paling istimewa
Kau yang selalu hinggap dalam pikiranku
Dan adalah kau, yang membuat hatiku selalu mengiba

Hujan dan Kiamat

Hujan dan Kiamat


Hujan kali ini,
rasanya kurang meninggalkan kesan
Aromanya yang khas saat menghujam permukaan tanah,
tidak lagi lekas mengusik indera penciumanku
Begitupula, sama ketika mereka berakhir

Pertanda kiamat kah ini semua?

Ah sudahlah, jangan kau bicarakan soal kiamat
Yang ada dan nampak saja,
dengan mudahnya dapat dari luput pandangan
Lalu, kau ingin mempertanyakan Kemahakuasaan-Nya!?
Begitu maksudmu?

Kau tanyakan saja pada rumput yang bergoyang
Mungkin sampai habis akalmu pun,
takkan kau temui jawabnya
Setiap pertanyaan pasti ada jawabnya, kawan
Akan tetapi, tak mesti untuk kau ketahui semua

Selasa, 04 November 2014

Untitled

Untitled


Hidup itu,
seperti kata pepatah kawan
Gajah mati meninggalkan gading,
harimau mati meninggalkan belang
Dan kesan selalu ada yang lekas membekas, lalu abadi

Gadis itu,
berlalulah dia dengan segala kebaikannya,
demikian pula dengan kobaran-kobaran semangatnya
Walaupun kedamaian di surga,
salah satu yang menjadi harapannya

Ohh Tuhan,
Kau jadikan ia seperti harapannya
Kau bawa jiwanya yang telah lama meronta-ronta
Terbakar habislah seluruh badannya menjadi abu
Tetapi tidak, tidak dengan hatinya

Karena kami semua menggenggamnya,
menyematkannya pula ke dalam hati kami



Doa kami menyertaimu, . . . . .
Semoga selalu teriring kasih, dalam perjalanan terakhirmu dan selamat jalan

Mimpi (Kau dan Lelaki Setengah Sipit)

Mimpi (Kau dan Lelaki Setengah Sipit)


Waktu itu,
ketika aku sedang memikirkanmu,
mataku terpejam dan aku terlelap seketika
Lalu, kudapati dirimu berada dihadapanku

Kau menarik kedua tanganku,
hendak kau tunjukkan sesuatu
Ternyata kau datang dengan cintamu
Lelaki setengah sipit dan berparas teduh

Aku diam, tak dapat berkata
Aku mungkin tidak mengenalnya,
Dan bahkan tidak akan mengenalnya,
jika lembaran-lembaran fotomu tidak berbicara

Dan, tidak..
Tak lama aku pun terjaga,
walau belum tersadar sepenuhnya
Akan tetapi, apa yang nyata tetaplah nyata,
Bahkan, lewat mimpi pun ku tak dapat berharap banyak

Tentang Rindu

Tentang Rindu


Tentang rindu, aku seakan egois
Karena aku masih belum dapat,
untuk membaginya kepadamu

Rindu ini, masih hanya menjadi milikku
Dan kau tak akan mungkin,
menyebut kata itu kepadaku

Apalah aku, dan siapa pula diriku?
Untukmu, aku hanya memiliki rindu
Bahkan sebuah kenangan pun,
belum pantas kusebut sebagai kenangan

Bila kau tanyakan kepadaku, apa itu rindu?
Aku hanya memiliki sebuah jawaban
Rinduku adalah sebuah rindu sahaja,
sebuah rindu yang tak berbalas

Minggu, 02 November 2014

Untukmu, Sang Srikandi

Untukmu, Sang Srikandi


. . . .,
kau terlihat menawan,
terlihat perkasa sekalian
Flanel yang kau kenakan,
keril yang menempel di punggungmu,
serta slayer yang sesekali tersemat di lehermu

Ahh, sungguh..
Apapun yang ada padamu,
aku begitu menyukainya, sungguh
Kusukai pula poni rambutmu,
kala kau jadikan dirimu feminim seutuhnya

Setangguh-tangguhnya kau bertualang,
kupastikan kau mungkin dan akan terjatuh
Bukan tersandung batu,
atau pun kerikil tebing
Melainkan oleh hangatnya cinta

Akan tetapi,
jika kau belum merasakannya,
aku takkan ragu untuk memberinya
Hanya untukmu saja seorang,
wahai engkau sang Srikandi

Jemu

Jemu


Jemu,
aku terlanjur jenuh dengan kehidupan
Kehidupan yang penuh dengan fatamorgana

Topeng-topeng datang silih berganti,
baik rupa, baik pula warnanya
Sekalipun oase kulihat di padang pasir,
yang kumiliki hanya sebuah kekeliruan sahaja

Tidak seperti janji-janji manis belaka

Kepalsuan dalam persahabatan

Celaan berujar ibaan

Dan semua tabiat-tabiat kemunafikan

Sungguh, aku jemu

Kau dan Senyum Dua Gigi Kelinci

Kau dan Senyum Dua Gigi Kelinci


Selalu, lewat tanya aku berbicara
Kepadamu, wahai gadis pujaan

Dari ribuan orang yang menyanjungmu,
Aku, memang berbeda

Kulantunkan harapanku lewat doa,
agar selalu kau bahagia disana,
agar selalu kau tersenyum disana,
dan selalu kau dikelilingi oleh cinta

Maka perkenankanlah aku,
meski hanya memiliki senyummu
Senyum dua gigi kelinci,
waktu kita berbasa-basi dulu

(Masih) Tentang Sepi

(Masih) Tentang Sepi


Walau sepi disini,
namun ku masih belum ingin beranjak
Masih ingin ku tuliskan kata demi kata,
merangkai satu persatu harapan

Walau sepi disini,
takkan mudah bagiku untuk berpaling
Akan tetap ada jejak-jejak perasaanku,
yang pernah mengisi setiap relung di hati

Bakar, dan buatlah asap. Dasar bangsat!

Pagi,
akan selalu menjadi pagi,
walau tak lagi dapat ku rasakan dingin hawanya

Tetes-tetes embun,
daun-daun yang menghijau,
dan kabut tipis yang menghalau pandangan

Senantiasa menyambut setiap insan,
yang terbangun dari lelapnya peraduan
dan yang masih tetap lelap dalam buaian mimpi


Hei, tapi itu dulu bung!


Pagi-pagi kali ini,
tak lagi semenawan dulu,
turut pula tak seelok biasanya

Orang-orang itu memang bangsat!
Sebangsat-bangsatnya manusia
Mereka memperkosa kita,
Merenggut kebebasan kita,
untuk bernafas dengan layak

Sampah-sampah itu,
mereka bakar tanpa kenal waktu, tanpa kenal peduli
Dan asap-asapnya, berhambur-hamburan tersapu angin,
menjadikan kita seperti daging asap hidup
Dan kita meronta-ronta dalam balutan bau-bauan busuk

Aku bukan tidak adil
Karena aku masih setia menikmati aroma tembakau,
yang hilir mudik di dalam paru-paruku
Tapi asap ini, bukan hanya hendak membunuhku saja
Mereka seperti Hitler yang hendak membantai para yahudi!

Ahh, tapi sudahlah bung
Tidak ada gunanya lagi berkeluh kesah
Kita sebenarnya sudah lama mati, benar-benar mati,
semenjak kita kehilangan rasa sayang kita satu sama lain
Dan semenjak tidak ada lagi rasa peduli diantara kita

Kita semua, seperti mayat hidup
Kita memang manusia, tapi kita bukan pula manusia
Kita memang mayat, tapi kita bukan pula mayat
Serba salah memang, tapi ahh sudahlah
Karena tidak ada gunanya pula ku berkata

Boleh kupinjam koreknya, bung?
. . . .

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 3]

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 3]


Ohh, ayah..
Suaramu mulai terasa lirih kudengar,
membuat hati ini, menjadi pilu dan haru
Demikian pula hela nafasmu,
semakin saja berat kurasa

Aku menangis ayah
Aku berjalan ke pojokan kamar,
lalu kurebahkan selimut diatas tubuhku
Dan aku menahan jerit,
seperti seekor tikus yang terjepit

Persetan!
Tak peduli dengan kejantananku
Aku memang seorang laki-laki,
dan aku adalah pria sejati
Tapi, aku masih punya perasaan

Ohh, ayah..

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 2]

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 2]


Dulu, memang tak banyak kata darimu,
kecuali nasihat dan larangan
Dan Ibu pun demikian halnya
Jadi bukan salahku dan jangan salahkan aku,
bila kini aku menggauli sepi dan hening
Akan abadi nampaknya, tetap begini adanya

Bukan ku tak ingin berubah,
aku pun selalu ingin berulah, tak ingin kalah
Aku ingin menjadi teman bagimu
Aku ingin menjadi musuh bagimu
Aku ingin menjadi seorang abdi bagimu

Dan rasanya,
aku ingin terus menjadi anak kecilmu
Anak kecilmu yang telah lama hilang,
termakan ambisi dan mungkin pula gengsi

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 1]

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 1]

 
Ayah,
aku masih dengan jelas mengingatnya
Saat kau duduk dengan mengenakan sarungmu
Aku meraihnya,
duduk diatasnya,
memintamu menggoyang-goyangkannya
Hingga aku terlelap, seperti tidur diatas ayunan

Waktu itu mungkin,
hampir 20 tahun yang lalu
Saat aku belum mengenal banyak kata,
belum mengenal banyak dosa,
belum pula mengenal kecewa,
apalagi membayangkan masa depan

Keriput yang menghiasi wajahmu,
aku dapat melihatnya dengan jelas
Badanmu mungkin tidak setegap dulu
Bahkan sesekali,
kulihat pedih dalam bola matamu,
Dan aku masih saja diam, walau ku tak ingin

Sabtu, 25 Oktober 2014

Darah itu merah, jenderal! Dan Jakarta itu panas, bung!

Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung!


Baik, katakanlah saya orang yang seringkali mengeluh. Akan tetapi, saya masih mengganggap bahwa keluhan-keluhan saya selama ini masih dalam batas kewajaran dan termasuk sesuatu yang pantas untuk dilakukan. Walaupun, saya sering mendapati kata-kata motivasi yang menyebutkan bahwa mengeluh itu bukanlah sesuatu hal yang bagus atau baik untuk dilakukan. Persepsi saya, sebuah keluhan itu hukumnya adalah sah apabila didasari oleh sesuatu yang benar-benar dinilai sebagai sebuah kondisi yang tidak menguntungkan. Kecuali kalau kita mengeluh, tapi kita sendiri tidak memiliki alasan mengapa kita mengeluh. Contohnya saja, seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Mungkin bukan cuma saya saja yang merasa kalau akhir-akhir ini cuaca atau hawa atau udara di jakarta sangat tidak bersahabat. Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung! (*bukan pasukan nasi bungkus lho ya). Bahkan, media informasi pun sempat mengabarkan bahwa suhu di Jakarta pada siang hari mencapai 39 derajat Celcius. Jempol!
Dan pastinya, bukan hanya saya saja yang sekiranya mengeluhkan kondisi cuaca yang sedemikian rupa ini. Tetapi keluhan belum selesai sampai disini saja. Di tengah panasnya udara dan di tengah panasnya kondisi perpolitikan di Indonesia, terutama di gedung DPR MPR dan selintingannya, ada saja kelakuan segelintir orang yang perbuatannya tidak dapat saya mengerti tujuannya. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ini, yang seenaknya saja melakukan fogging dengan mem-BABI-buta di lingkungan rumah tempat saya menumpang tinggal dengan kedua orangtua saya, dengan membakar sampah-sampah karet dan sampah lainnya, yang pada akhirnya menyisakan ampas berupa asap-asap pekat dan berbau tengik. Kalau saja yang dibakar adalah daun-daun ganja kering, mungkin saya tidak mempunyai cukup waktu untuk mengeluh dan menulis postingan ini. Karena yang akan bisa saya lakukan hanya nyengir dan tertawa gak jelas sepanjang hari.
Pagi, siang, sore malam, sampai pagi lagi, terus tercium aroma sisa-sisa pembakaran sampah di lingkungan tempat saya tinggal. Sejujurnya, saya lebih ikhlas menghirup aroma dari asap rokok yang dihembuskan orang satu RT sekalipun. Dibandingkan saya harus menghirup aroma tengik atau apalah itu namanya. Lebih ikhlas lagi kalau saya menghirup sendiri asap rokok yang saya hisap sendiri, daripada "dipaksa" untuk menghirup sumber penyakit yang menurut saya lebih parah dari asap rokok berbau kemenyan sekalipun. Apalagi jika sampai seisi rumah yang "dipaksa" harus menghirupnya. Terlebih, pemaksaan adalah sama dengan pemerkosaan. (*Halah!). Namun berhubung saya beserta keluarga menjunjung tinggi rasa toleran yang tinggi dan tidak menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan emosi, kami hanya berharap kalau aktivitas bakar-bakaran laknat itu dengan cepat berakhir. Dan keadaan di lingkungan tempat saya tinggal kembali aman dan nyaman, seperti sedia kala, sama seperti sebelum Negara Api menyerang. Wkwkwkwk....

Salam Super!

Jumat, 24 Oktober 2014

Pula,

waktu hanyalah sebuah istilah.

Gambaran mengenai tadi, sekarang dan nanti.

Bisa hari ini, esok ataupun lusa.

Sama seperti rindu,

gambaran pengharapan diri ini kepadamu setiap waktu.
" If everything is all set to be broken from the beginning,
there must be a reason why it is kept to stand up for so long. "
" For some different reasons, people do different actions too.

And for some chances, people sometimes interact to others by using different masks. " 

Kamis, 23 Oktober 2014

"Bosan"


Hei,
kamu yang ada disana,
jingganya pelangi dalam hatiku,
alamat dari semua tulisan-tulisanku

Aku ingin kau tahu,
turut pula kau mengerti
Jikalau aku sudah lama bosan,
amat sangat sejadi-jadinya

Aku memang bosan,
tapi bukan kepadamu
Bukan kepada senyummu,
bukan pula kepada kantong matamu

Dalam hati, ku hanya berkata
Lewat kata, ku hanya dapat berbicara
Dan lewat foto, ku hanya dapat menatapmu
Dan selalu begitu saja

Inginku kita saling berbagi,
dapat pula saling mengasihi
Walau hanya sekali waktu,
dan tak ada lagi waktu yang kumiliki

Rabu, 22 Oktober 2014

Aku. Dan Masih.
 

Selalu saja, kuamati setiap gerak dalam keramaian
Kucoba terus mengolah rasa, merangsang peka
Akan tetapi, tetap saja hampa yang kurasa
Dan pergolakan dalam batinku,
selalu saja terjadi dan terus terjadi

Lambat laun, ku semakin terlelap
Sambil lalu, terbenam dalam cercaan yang sama
Aku selalu saja begini, ingin begitu pun selalu begini
Sejatinya, satu saja inginku,
untuk dapat selalu mengabaikan risau-risauku

Aku bagaikan seorang pelacur,
bahkan serendah-rendahnya pelacur
Aku tidak mengimpikan materi, apalagi kemaluan semata
Aku hanya ingin bebas, melangkah tanpa beban
Turut pula ku mencapai tujuan, walaupun semua bukan tanpa ujian

Ohh, wahai langit
Kapan lagi ku dapat terlena dan menikmati senjamu
Ia yang selayaknya bidadari, meski berkalang arak-arakan awan
Ia yang selalu mampu memberikan kedamaian,
bagi siapa saja yang menikmati keindahannya
Ahh..


Ahh..
Nyaliku memang,
tidak lebih besar dari nyali seekor nyamuk.
Nyaliku bahkan,
mungkin tidak lebih dari serangkaian abjad,
yang hanya menyusun sebuah kata,
bahkan hampir tanpa makna.
Bagai sebuah kekuatan tidak kasat mata,
yang terbelenggu dalam cucuran perasaan.
Rasa bersalah, rasa takut, rasa ragu,
dan tak jarang keputusasaan.

Ahh..
Lagi-lagi pikirku,
mati itu indah, pula terlihat damainya.
Terlebih, jika aku menentukannya sendiri.
Atau lebih tepatnya, kudahului takdir oleh-Nya
Daripada, semakin berkalang kecut jiwa ini,
pula seraya menikmati kesia-siaan, lagi dan lagi.
Seolah-olah, pikiran dan kata-kata,
tetap menjadi bagaimana adanya mereka.

Ahh..
Aku memang telah lama mati.
Semenjak mimpi-mimpiku terdahulu,
tiada pernah tersambut.
Waktu itu memang, mereka bagai terhalang kabut.
Kadang jelas dan kadang samar.
Dan seorang pendaki terhebat sekalipun,
masih dapat menemukan remah-remah gairahnya.
Meskipun, ia sedang menatap gunung yang sering didakinya.
Karena, kesannya akan selalu membekas.

Ahh..
Pada akhirnya, sebuah kesan,
hanya kenaifan yang dapat menyamarkannya.
Kecuali, jika memang takdir yang berkehendak.
Sayangnya, lagi-lagi aku tidak dapat berkuasa akan waktu.
Tidak dapat pula mengikatnya dengan janji.
Karena hanya takdir yang dapat mengikatnya,
sementara takdir adalah kuasa-Nya.

Minggu, 05 Oktober 2014

Tentang Perasaan

Tentang Perasaan


Kau pasti tahu,
daun-daun yang telah tua, akan tiba saatnya bagi mereka untuk jatuh berguguran

Namun, kau mungkin tak tahu,
bagaimana perasaan ini terkubur dan mengendap di lubuk hatiku yang paling dalam

Kenyataannya memang,
rasa cintaku memang ditakdirkan untuk singgah di tempat yang salah,
terus tumbuh melebat, sampai mengakar dan mungkin takkan tercabut

Tetapi jangan kau samakan cintaku dengan batang singkong,
ataupun semak belukar yang bebas tumbuh dan dapat dicabut hingga tak bersisa

Katakan saja aku tolol, bodoh, naif, nestapa atau apapun itu

Aku memang begitu.
Karena aku sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan,
yang jawabannya sudah kuketahui pasti, bahkan sebelum aku memikirkannya

Begitupula, dengan ungkapan-ungkapan yang ku persembahkan untukmu

Mungkin semua hanya sia-sia belaka

Tetapi, aku memang begitu

Setidaknya masih sampai saat ini, karena esok dan seterusnya, aku tak berkuasa atasnya

Jumat, 03 Oktober 2014

Teruntuk kawan, sahabat seperjuangan Teknik Elektro Paralel Ekstensi 2011

Setiap kuncup bunga yang berasal dari pohon yang sama, sejatinya mereka akan tumbuh mekar dengan wangi yang sama semerbaknya.

Walaupun, perilaku tumbuhkembangnya bergantung pula pada tingkat kesuburan, tingkat ketahanannya pada cuaca/iklim serta takdirnya sendiri yang menjadikannya seperti terlihat adanya.

Senada dengan sebuah kebersamaan, karena akan selalu ada perpisahan dibelakangnya.

Kenangan yang manis akan selalu menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang dan perpisahan tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk.

Perpisahan kali ini adalah sebuah kebanggaan, jadi berbanggalah kawan.

Karena setapak demi setapak langkah yang akan dijejakkan, akan mengiringi setiap sosok ke masa depan yang lebih baik lagi dan lebih manis lagi.




Teruntuk kawan, sahabat seperjuangan Teknik Elektro Paralel Ekstensi 2011.

YOLO!

" When you feel that you're the only one experiencing the hardest part of your life,
maybe you just don't know the way how to thank to God for every breath you take and for every chance you get.
So, you shall take a look around, and you will see what in the world is going on and how the people attempt to make deals with their last chance. YOLO! "

Minggu, 25 Mei 2014

Something about Problem



" What makes a problem to be the problem itself
is
that we don't know the best thing to do."

A Little Girl with Droopy Eyes and Black Straight Hair

- A Little Girl with Droopy Eyes and Black Straight Hair -


There will be always an awkward moment when we're opening the old pages of our life.

Times we spent, days we past and messages we made.
Yeah, time's going so fast.

One thing.

You did a great decision by taking the great one to be beside you.
Now, it seems like you've been really enjoying your trip.

So that, you'll be stepping your feet more steadily and more confidently.

Maybe i'll be doing that at the different time, not now.

But once, congrats!

Fate and Reality

- Fate and Reality -


Maybe, there are instantaneous ways to avoid an insanity.

So that, people filled their needs by walking through the different ways too.

Seems like we don't have to argue, because everything is set to be broken from the beginning.

That's a fate and that's a reality.

There will be always sacrifices and there will be always pretendences.

Like it or not, that's life.

Some stay, some leave and then some wipe. This is life.

 
"Some Stay, Some Leave and then Some Wipe.

This is Life."


"Kita Semua Setan"


Katanya, jika kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar dan tidak, atau yang baik dan buruk. Inilah kenyataannya saat ini.

Atau mungkin sebelumnya juga sudah seperti bagaimana adanya.


Sementara, sambil lalu kita terus-menerus mencoba untuk menutup mata, telinga, hati, pikiran dan segenap perasaan. 


Perlahan-lahan timbul tenggelam didalam lautan kemunafikan dan hanyut terbawa arus kesesatan.



 

Saat ada setan memanggil, kita menghampirinya.

Saat sang setan mendekat dan menawarkan jabat tangan, kita menjabatnya.

Saat sang setan berkata, lalu turut pula kita mengiyakannya.

Saat sang setan memerintah, dengan senang dan buta hati kita melakukan perintahnya.

 

Secara sadar atau tidak, kita telah menjadi bagian darinya.

Lalu, semua akan terlihat sama.
 

Kita semua adalah sama.
 

Dan kita semua adalah setan.

Minggu, 18 Mei 2014

"Take nothing, but photographs. Leave nothing, but footprints." (Gunung Gede 2958 Mdpl)


"Take nothing, but photographs. Leave nothing, but footprints."

 01 Mei 2014
(Gunung Gede 2958 Mdpl)


Seketika, kulihat gerayang kabut berjalan menutupi rerimbunan pohon yang berlapis tebing besar nan lebar.
Seketika pula, kulihat hamparan awan yang bergerak menyeruak di depan pijakan kakiku.
Seolah-olah mereka merayu kepadaku, mengajakku jauh bercumbu dan mungkin tak kembali lagi.
Saat kutarik nafasku dalam-dalam, aku tertegun, mencoba mengingat apa yang telah kami bertiga lewati berjam-jam yang lalu.

Dalam pekatnya malam,
kami menjejaki kesunyian hutan yang kadang diselingi suara hembusan angin yang menerpa pepohonan.
Desah suara hembusan nafas yang berat turut memecah pula kesunyian malam itu.
Sementara tak jarang pula, tarikan-tarikan nafas kami gagal mencapai klimaksnya.
Aku pun merasa bahwa perjalanan ini merupakan perjalanan yang cukup berat bagiku.
Cukup berat bagi manusia perkotaan modern, yang biasa dimanjakan oleh kemutakhiran teknologi mesin-mesin beroda.
Pada saat itu, aku tidak dapat menyombongkan diriku layaknya seorang ksatria yang sedang memecut kuda besinya, untuk melaju dengan pesat.

Yang kami rasakan pada saat itu mungkinlah sama.
Yang sangat mungkin kami rasakan saat itu adalah kami hanya bisa mengandalkan diri kami sendiri sepenuhnya.
Kami hanya bisa mengandalkan tumpuan kedua kaki-kaki kami.
Kami hanya bisa berjalan dan terus berjalan, atau hawa dingin akan menghabisi kami.
Walaupun sesekali kami berhenti untuk menghela nafas panjang dan berbaring diatas bebatuan lembab dan dingin,
demi mengumpulkan kembali semangat untuk terus bergerak dan berjalan dalam dinginnya malam.

Pada akhirnya, kami dapat mencapai tujuan kami.
Sebuah tempat beserta suasana yang sekiranya membuahkan rasa rindu untuk kembali, dan kembali lagi.
Sebuah tempat dimana kami dapat menertawakan puas keberhasilan kami dalam melawan rasa pesimis kami.
Sebuah tempat yang menyadarkan kami betapa kecilnya kami di hadapan-Nya.
Dan sebuah tempat yang memberi pelajaran kepada kami mengenai kebersamaan dan kepedulian, sebagai manusia.
Karena mendaki bukan hanya mengenai seberapa kuat kaki dan pundak kita memangku beban.
Dan bukan pula hanya mengenai seberapa cepat kita membekaskan jejak-jejak kaki kita.

Sabtu, 01 Februari 2014

-Kecuali entah dimana-

 One day, one post (or more) - [Postingan ke-21]
  

-Kecuali entah dimana-


Ada sesuatu yang tidak dapat kita ingat dan ada sesuatu yang memang tidak ingin kita ingat.

Dan ada pula sesuatu yang ingin kita ingat, tapi terpaksa untuk kita lupakan.
 

Oleh karena itu, aku ingin menyebutmu dengan sebutan "Jingga".
 

Karena aku tidak begitu yakin, bahwa suatu saat aku akan dapat memanggil namamu ataupun mengingat namamu.
 

Akan tetapi, akan terdapat satu pengecualian.
 

Yaitu jika kita bertemu kembali pada suatu saat.

Dan pada suatu tempat, yang entah dimana.

-Malam-malamku tentangmu, Jingga-

 One day, one post (or more) - [Postingan ke-20]


-Malam-malamku tentangmu, Jingga-


Meski mendung malam ini, bukan berarti aku tidak dapat menikmati malam.

Meski bintang enggan nampak sekalipun, rasaku tak sedikitpun memudar.

Rasa ini selalu mengisi kekosongan, bersemayam dalam satu ruang di hati dan menghapus duka serta lara.

Walau, kadang pula sesekali berubah jelma menjadi lolongan serigala di kala bulan Purnama.

Rinduku ini, bagai rindu yang tak terbalas.

Melalui lontaran-lontaran kata tanpa arah dan makna, bagai surat tanpa penerima.

Tetapi, masih tetap kepadamu Jingga, hati ini menepi.

Rabu, 22 Januari 2014

-Jingga-

One day, one post (or more) - [Postingan ke-19]


-Jingga


Ada sesuatu yang tidak dapat kita ingat dan ada sesuatu yang memang tidak ingin kita ingat.

Dan ada pula sesuatu yang ingin kita ingat, tapi terpaksa untuk kita lupakan.


Oleh karena itu, aku ingin menyebutmu dengan sebutan "Jingga".


Karena aku tidak begitu yakin, bahwa suatu saat aku akan dapat memanggil namamu

ataupun mengingat namamu.

Akan tetapi, akan terdapat satu pengecualian.


Yaitu jika kita bertemu kembali pada suatu saat.


Dan pada suatu tempat, yang entah dimana.

Jumat, 17 Januari 2014

Tentang kebiasaan dan konsistensi.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-18]

 
I'm randomly having a thought about these words: Humiliation. Devastating.
Such a great friday morning!

Saya bukan ingin bercerita mengenai kedua kata diatas. Humiliation dan Devastating, kedua kata yang tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran saya. Lalu saya buka aplikasi kamus di laptop saya untuk mencari kedua arti kata tersebut.

"Humiliation" berarti penghinaan.
Sementara, "devastating" berarti sesuatu yang berkenaan dengan penghancuran atau bersifat menghancurkan.

Mungkin bukan hanya saya saja yang pernah mengalami hal serupa. Seketika waktu dimana kita sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian muncul sebuah atau beberapa buah kata yang tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang sedang maupun telah kita kerjakan saat itu.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Saya sadar kalau saya telah mangkir lagi dari tantangan One day, one post (or more) yang saya buat. Rasanya memang pantas kalau saya disebut sebagai orang yang kurang memiliki konsistensi, terutama pada beberapa hal yang sepatutnya saya perjuangkan. Padahal, menurut sebagian besar orang, yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan (dalam segala hal) adalah konsistensi dan semangat pantang menyerah. Yaa, minimal untuk sekedar mencapai kata "sedikit mencapai". Akan tetapi dalam konteks ini, saya lebih senang menyebut diri saya sebagai seorang yang inkonsisten.
Agak aneh memang kelihatannya. Namun maksud saya adalah inkonsisten atau tidak konsisten merupakan sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan saya saat ini. Ini bila dilihat dari satu sisi. Sementara pada sisi lainnya, saya menemukan diri saya dalam keadaan yang konsisten, malahan sangat. Konsistensi dalam kemalasan atau keengganan untuk melakukan sesuatu yang saya kira sekiranya bermanfaat.

Abaikan tentang baju dan celana yang saya cuci tadi pagi.

Abaikan tentang doa yang saya panjatkan kepada Sang Pencipta tadi pagi.

Abaikan tentang segala sesuatu yang saya lakukan pagi ini.

Karena saya rasa hal-hal tersebut tidak membutuhkan konsistensi, melainkan rutinitas yang bahkan dapat dilakukan secara tidak sadar. Naluriah lebih tepatnya.
Selain itu, apa yang tidak dan tidak dapat saya lakukan memang lebih banyak jumlahnya dibandingkan sedikit hal diatas. Rasanya, rasa malas senantiasa merajai segenap jiwa dan raga saya. Mengalir bersama darah melalui pembuluh-pembuluh dan urat saraf, untuk kemudian meresap kedalam peraduannya kini.
Akan tetapi, saya mulai dapat merasa sedikit bangga dengan diri saya terhitung pada dua hari ini. Hal ini dikarenakan saya bisa memulai sedikit perubahan mengenai pola tidur dan jam bangun pagi saya.
Mulai dua hari yang lalu, saya tidur malam lebih cepat 3 sampai 4 jam dari waktu biasanya saya tidur. Sementara paginya, saya dapat kembali aroma dari tetesan embun yang disertai dengan semilir angin yang bertiup dengan sejuknya.

Singkatnya, saya ingin berharap kalau saya dapat mempertahankan keadaan ini sebagai suatu kebiasaan. Dan kebiasaan ini nantinya akan dapat diikuti oleh kebiasaan-kebiasaan kecil lainnya. Alasannya tidak lain adalah saya dapat memperbanyak frekuensi konsistensi saya dalam melakukan hal-hal yang sekiranya baik dan bermanfaat bagi diri saya sendiri. Karena sudah dari lama saya menginginkan perubahan yang benar-benar signifikan dalam hidup saya, dalam keseharian saya. Walaupun kecil sekalipun, setidaknya saya sudah mencoba nantinya. Mudah-mudahan saja.


“Everyone thinks of changing the world,
but no one thinks of changing himself.”

-Leo Tolstoy-

Rabu, 15 Januari 2014

I (wanna) walk beside you. Forever.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-17]


Wangi tanah sehabis hujan dan semilir angin yang menyertai,
membumbui lamunan-lamunanku akan dirimu siang ini.

Aku, seseorang yang selalu mengamatimu dalam hening,
ingin sesekali mengikuti dan menuntun langkah-langkah kecilmu.

Langkah-langkah kaki yang kau ayunkan,
untuk mengarungi luasnya samudra kehidupan.

Mungkin nanti, sesekali kita akan berhenti berjalan,
kita rebahkan badan kita diatas rumput basah nan berembun.

Kemudian saling memunggungi satu sama lain,
lalu kita menyanyikan lagu-lagu kegemaran kita berdua.

Sejenak kita mengabaikan dunia, mengabaikan semesta.

Kita pun tenggelam dalam lautan memori,
dan hati kita berinteraksi melalui lagu dan melodi.


" I walk beside you
Wherever you are
Whatever it takes
No matter how far

 
Through all that may come
And all that may go
I walk beside you
I walk beside you.. "

"I walk beside you" -Dream Theater-

Selasa, 14 Januari 2014

Tentang asa, lewat senyummu.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-16]


Tiap helaan nafas ini hampir selalu terasa berat kurasa.

Karenanya, tidak akan kulewatkan lagi satu persatu hela nafas yang kuhirup.

Lalu biar masuk semua ke dalam rongga paru-paru yang busuk ini.

Seakan-akan sedang kucoba gapai asa-asa kehidupan,
yang perlahan-lahan mulai menghilang, bertebaran hingga ke langit ketujuh.

Bertebaran kesana kemari, menari-nari kembali dalam angan-angan semu.

Satu persatu malam, hari demi hari, kurangkai semua imaji dalam mimpi.

Dan satu persatu pula, kudapati semua imaji itu tetap menjadi imajinasi.

Akan tetapi,
sosokmu masih kulihat jelas dalam imajiku saat ini.

Lewat kedua bibirmu yang menari dalam sebuah lengkung,
yang pernah kutangkap dalam ego dan kenaifanku saat itu.

Ya, aku yang saat itu bukanlah aku, melainkan keakuanku.

Aku yang mencoba mengakukan diriku dengan memenjarakan segenap rasa,
pasrah kepada keakuan yang kubuat-buat.

Dan kemudian seperti tak berdaya, perlahan mati dalam kemaluan.

Senin, 13 Januari 2014

Ide tentang video dokumenter (Tentang Jakarta)

One day, one post (or more) - [Postingan ke-15]

 
Berhubung saya masih memeras otak bervolume kecil saya untuk menemukan inspirasi dalam membuat tulisan kali ini, saya ingin bercerita sedikit tentang sebuah ide :)

Semenjak awal liburan semester ini, saya berpikiran untuk membuat sebuah video dokumenter pendek bertema Jakarta, tempat kelahiran serta tempat saya mempelajari banyak hal selama kurang lebih seperempat abad. Bisa dibilang, saya ingin mencoba sesuatu yang baru namun masih ada hubungannya dengan hobi berkamera saya (*halah bikin bahasa sendiri). Saya ingin membuat video tersebut dengan menggunakan kamera yang biasa saya pakai untuk memotret atau mengambil foto. Ada sedikit rasa penasaran dalam hati saya mengenai seberapa jauh kemampuan kamera kepunyaan saya dalam melakukan perekaman gambar. Walaupun nantinya saya hanya mengandalkan sebuah kamera dan sebuah tripod pinjaman saja untuk melakukannya. Terus terang saja, untuk dapat membuat video yang bisa dibilang bagus secara visual (belum secara konten atau isi cerita di dalam video) memang dibutuhkan perangkat-perangkat yang tidak main-main harganya. Untuk mahasiswa yang masih berkantong pas-pasan seperti saya tentunya. Hahaha..

Lagipula, saya belum mempunyai niatan untuk menyeriusi pembuatan video untuk sekarang ini. Bisa dibilang ini adalah sekedar proyek iseng-iseng berhadiah pengalaman saja. Balik lagi ke masalah tema video dokumenter yang ingin saya buat. Saya ingin membuat video dokumenter mengenai hal-hal yang menggambarkan kota Jakarta secara sederhana. Dalam bayangan saya, mungkin nantinya akan ada visualisasi berupa gedung-gedung pencakar langit yang terdapat di jalan-jalan utama dan sedikit dibumbui dengan aktivitas orang-orang yang sedang mengikuti kegiatan car free day. Selain itu, mungkin saya akan menambahkan sedikit visualisasi berupa wawancara singkat saya dengan orang-orang yang saya temui di jalan nantinya. Dengan harapan, saya dapat memenuhi salah satu unsur atau kriteria dalam pembuatan video dokumenter. Walaupun saya belum tahu pasti apa saja unsur maupun kriteria tersebut secara nyata pada prakteknya. Yang jelas, saya juga akan melengkapi video tersebut dengan narasi pendek yang saya buat dengan kataa-kata saya sendiri, yangmana berhubungan dengan konten video yang saya buat nantinya.
 
Yaa, mudah-mudahan saja saya dengan segera mendapatkan mood yang baik dan memiliki semangat produktivitas yang menggebu-gebu. Karena, sampai hampir  pertengahan bulan Januari ini saja saya sudah melewatkan beberapa agenda yang "harus" saya kerjakan. Harapannya tidak lain agar waktu liburan yang tidak sebentar ini dapat saya manfaatkan semaksimal mungkin untuk melakukan kegiatan yang bermakna. Because life is too short, right? :)

Salam semangat!


"And you run
'Cause life is too short
And you run
'Cause life is too short.."


"Life is too short" -Scorpions-

Minggu, 12 Januari 2014

Tentang Aku, Joko dan Dia.


One day, one post (or more) - [Postingan ke-14]


Hujan yang turun begitu derasnya tadi, menyisakan pemikiran akan sesuatu yang seharusnya kusadari dari dulu.

Dia akan kembali untuk seseorang disini.

Atau dia akan tetap disana untuk seseorang lainnya, bukan untuk diriku atau untuk Joko.

Joko selalu mempersiapkan hatinya untuk segala kemungkinan yang ada. Kemungkinan yang terbaik bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Dalam hal ini, Joko memang seorang yang sangat gigih. Beberapa kali ia pernah mengutarakan maksud hatinya kepada wanita yang dicintainya itu, walaupun setiap kalinya berujung dengan penolakan halus.
Tapi, bukan Joko namanya kalau ia tidak memperhitungkan segalanya dengan matang. Bahkan ia selalu memperkirakan hasil yang akan ia dapat, sebelum ia mengambil sebuah keputusan. Ia bukanlah tipe orang yang berjalan tanpa arah dan pemikiran-pemikiran kritis.
Suatu kali ia pernah mengutarakan sebuah pengakuan kepada wanita yang dicintainya itu, dan saat itu ia memang tidak mengharapkan agar pernyataan pengakuannya tersebut mendapat balasan. Tetapi pada hakekatnya, pengakuan itu kurang lebih seperti sebuah permohonan tersirat yang menanyakan kesediaan akan sesuatu. Terlebih kepada wanita yang telah dicintainya selama bertahun-tahun dan hampir tidak alasan untuk memalingkan hati dan perasaan.
Joko begitu mengenal wanita itu, jauh lebih dalam daripada yang ku ketahui selama ini.
Wajar saja, ia dengan begitu gigihnya menambatkan hatinya pada wanita itu sehingga ia berani mengatakan bahwa perasaannya kepada wanita pujaannya itu bagaikan akar pohon yang semakin hari tumbuh besar, untuk mencengkeram sebidang tanah yang dihinggapinya dengan eratnya.
Ia bahkan masih menyimpan dengan segenap hatinya, sebuah benda kenangan yang pernah diberikan wanita itu beberapa tahun silam. Dengan harapan ia masih memiliki kesempatan untuk menunjukkannya kepada wanita itu dan membuktikan bahwa ia telah menjaga perasaan dan hatinya selama berbelas-belas tahun untuk dapat bersanding dengan wanita itu suatu saat.
Sama seperti ia menjaga benda pemberian wanita itu selama berbelas-belas tahun pula, dengan sepenuh hatinya.
Sementara aku??

Sejujurnya, aku tidak memiliki benda apapun dari wanita itu. Darinya.
Aku hanya pernah menangkap senyumnya beberapa kali kesempatan. Yang tanpa kusadari memunculkan sebuah perasaan yang tidak biasa. Perasaan yang aku sendiri tidak mengerti kenapa kemudian perasaan ini dapat tumbuh dan sepertinya akan bersemayam untuk sekian lama.
Dan nyatanya, perasaan ini memang telah bersemayam dalam kalbu. Bersemayam dalam lubuk hati yang paling terdalam. Aku rasa, diri ini hanya mencintainya secara sederhana. Sesederhana diri ini dapat dengan mudahnya menumbuhkan bibit-bibit perasaan yang kemudian tumbuh bersemi dengan cepatnya. Aku menikmati bagaimana cara dia tersenyum dan bagaimana dia berkata-kata. Aku turut menikmati pula bagaimana dia bersikap, dan selalu menebar keceriaan dengan senyumannya.
Dia merupakan inspirasi bagiku, sebuah inspirasi yang nyata. Bukan seperti tulisan-tulisan ataupun kata-kata yang selebihnya nampak sebagai omong kosong belaka bagi sebagian orang.
Dan aku pun tidak ingin melewatkan sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang di lain waktu.
Pernah sekali kuungkapkan rasa kagumku kepadanya pada suatu siang, lewat sebuah tulisan. Karena untuk saat itu, hanya itu yang dapat kulakukan. Mengingat jauhnya rentang jarak yang membentang diantara kami berdua. Tiba-tiba saja keinginan itu terlintas, dan secara spontanitas aku melakukannya saat itu juga. Aku hanya berharap dia membacanya, walau nantinya dia mengabaikannya dan tidak niatan sedikitpun dibenaknya untuk membalas tulisan tersebut.
Tetapi tidak. Karena dia membalasnya. Dia membalas tulisanku yang berisikan kekaguman-kekagumanku akan dirinya dan segala sesuatu yang kuingat tentangnya. Dia mungkin bisa membaca kepesimisanku saat itu, apa yang sedang kurasakan saat itu. Mungkin karena hal itu pula, dia memberiku kata-kata semangat lewat tulisan balasannya. Ahh, dia memang wanita yang begitu istimewa. 
Dan aku rasa aku sudah sangat beruntung karena pernah mendapat lemparan senyumnya. Karena aku bukanlah siapa-siapa baginya. Aku hanya seseorang yang sebentar pernah mengenalnya dan tiba-tiba memiliki perasaan yang seharusnya tidak pantas untuk kumiliki. Apalagi aku ketahui bahwa saat ini dia telah menambatkan hatinya kepada seseorang disana. Bukan Joko, apalagi diriku yang nista ini. Aku dapat melihatnya dari lembaran bingkai-bingkai imaji yang dia ambil sesekali waktu, ketika bersama dengan pria itu.

Seperti kata orang memang, hidup itu tidak dapat ditebak. Kadang apa yang kita anggap tidak mungkin terjadi bahkan tidak terpikirkan sekalipun, akan dapat terjadi tanpa kita sadari. Namun alangkah lebih baik jika itu yang terjadi. Dibandingkan kita mendapatinya secara sadar dan membiarkannya terjadi walaupun kita tahu itu tidak pantas terjadi dan untuk kita alami.

Begitupula dengan perasaan.

Tentang tayangan televisi dan intro lewat orkes dangdut.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-13]


Minggu pagi ini dibuka dengan hujan lebat yang nampaknya terpaksa tertunda tadi malam. Di dekat rumah saya, kemarin sore terdapat hajatan pernikahan yang berlangsung seharian penuh. Nampaknya pesta berjalan cukup meriah, hal ini cukup dapat saya amati dari alunan musik dangdut yang dimainkan selama semalam suntuk. Walaupun hujan sempat turun beberapa lama setelah maghrib, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para pencari hiburan rakyat yang mungkin datang dari berbagai pelosok rukun tetangga. Ditandai dengan alunan musik yang mengalun terus-menerus dan suara biduan yang hampir selalu sama di setiap hajatan. Entah mungkin karena kualitas sound system yang kurang mumpuni atau memang karena kualitas dari para biduan yang memang rata-rata sama, saya hampir tidak dapat menemukan perbedaan yang signifikan antara suara biduan yang satu dengan yang lainnya. Kalaupun ada yang berbeda, hanya dari track list yang dimainkan saja saya rasa. Bahkan kalau hajatan digelar dalam kurun waktu yang berdekatan antara hajatan satu dengan yang lain, bukan tidak mungkin kalau sebagian track list dimiliki oleh para orkes dangdut atau organ tunggal yang disewa para pengempu hajatan adalah sama.
Ya, sesuai dengan julukannya, yaitu hiburan rakyat. Bisa dipastikan kalau lagu atau musik yang dimainkan oleh mereka; para penghibur rakyat, merupakan lagu-lagu yang sedang nge-trend saat ini. Dalam artian trend yang saya maksudkan disini adalah lagu-lagu yang sering diputar oleh berbagai stasiun televisi, yangmana programnya kebanyakan menjadi program acara mendadak goyang atau mendadak joget. Setelah beberapa tahun belakangan ini, tayangan yang biasa saya tonton di televisi diinvasi oleh tayangan musik dengan penonton berselera 50.000 bahkan gratis demi bisa melihat bintang kesukaan mereka bernyanyi dengan mimik atau ekspresi mulut yang sering tidak sinkron dengan lagu yang mereka "bawakan". Sekarang muncul lagi tayangan yang hampir serupa, akan tetapi dengan kemasan yang berbeda. Saya kira manusia saja yang bisa latah, bahkan program televisi pun demikian. 
Diawali dengan kemunculan tayangan pada bulan puasa, yang biasa tayang secara live di jam-jam sahur. Kita akan mendapati sekumpulan orang dengan pakaian yang tidak biasa, bergoyang dengan gaya yang tidak biasa pula. Awalnya saya sempat berpikir tayangan seperti ini semacam angin segar bagi tayangan-tayangan lain yang biasa disiarkan pada jam yang sama. Dimana tayangan lain kebanyakan masih belum bisa move-on dari konsep acara mereka, yang notabene mengandalkan ejekan-ejekan gagal lucu dan kuis-kuis yang jawabannya diberitahukan sendiri oleh si pembawa kuis yang murah hati. Dan juga tayangan shitnetron bertema religi yang saya rasa semakin tidak sinkron antara judul dengan tayangan tiap episodenya. Bahkan sampai edisi-edisi berikut dan seterusnya. Lalu mindset saya berubah, sama seperti kebanyakan orang yang tadinya mungkin sependapat dengan saya, namun berubah haluan setelah merasa tayangan berisi goyangan yang saya bahas tadi menjadi menjemukan. Membosankan sepenuhnya.
Tayangan tersebut kemudian bertransformasi menjadi tayangan wajib muncul pada jam-jam istirahat kebanyakan dari kami. Pada jam-jam dimana para karyawan kantor yang ingin melepas penat dan pusingnya menghadapi kerjaan selama kurang lebih 8 jam sehari. Para mahasiswa yang kembali pulang ke kosannya atau base camp-nya masing-masing setelah gerimis sedikit demi sedikit mengganggu jadwal bergurau mereka satu sama lain. Para pengangguran yang merasa suntuk dengan media sosial sembari mempersiapkan bahan-bahan untuk interview keesokan harinya. Hampir tidak ada lagi tayangan berkualitas yang dapat disaksikan di layar televisi. Saya sering merasa kasihan kepada adik saya yang senantiasa memencet-mencet tombol remote, memindah-mindah channel demi mendapatkan tayangan yang sekiranya layak untuk dikonsumsi. Sayangnya, tayangan yang sekiranya bagus menurut saya, muncul pada waktu tengah malam. Itu pun frekuensinya tidak sebanyak dulu. Waktu dimana tayangan dengan tajuk layar emas dan emas-emasan lainnya berada pada masa kejayaannya.
Terus terang, saya tidak begitu mengerti dan paham bagaimana secara sistematis komisi penyiaran dan badan sensor di negeri ini bekerja dan meluluskan tayangan-tayangan di setiap kesempatan. Saya juga tidak mengerti apakah badan-badan ini bekerja untuk pemerintah atau bekerja untuk para pemegang saham stasiun televisi. Atau malah sebenarnya, badan-badan ini memang badan milik pemerintah yang terpaksa bekerja untuk pihak swasta yang mengucurkan sekian kecil persen keuntungan yang didapat, untuk disalurkan ke kantong amal pemerintah. Atau malah memang tanpa paksaan sama sekali. Entahlah. Tapi yang pasti, saya juga meyakini bahwa media begitu besar pengaruhnya saat ini. Apapun bentuk medianya. Serta teknologi yang turut pula menyertai perkembangannya. Seperti sebilah pedang bermata dua, pada salah satu sisi media dapat digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang baik dan positif. Sedangkan pada sisi yang lainnya, media dapat memberikan pengaruh atau efek yang buruk dan negatif. Saya lebih senang mengatakan kalau perspektif memegang peranan dalam hal ini. Manusia tercipta dengan berbagai macam dan karakteristik dan watak. Karakteristik serta watak yang dimiliki tersebut menghasilkan asumsi dan pemikiran serta tindakan yang beragam. Ya, mungkin saja manusia memang diciptakan, ada yang baik dan ada yang jahat. Ada kebaikan dan ada keburukan. Ada manusia yang baik dan ada pula manusia yang tidak baik (jahat). Akan tetapi, saya tidak akan membahas hal ini terlalu jauh lagi, karena akan melenceng dari postingan utama kali ini.
Ohh..andai saja saya mempunyai banyak uang, atau paling tidak saya selalu bisa membiayai sendiri perjalanan-perjalanan yang ingin saya lakukan sendiri, mungkin saya tidak akan terlalu memikirkan tayangan di dunia pertelevisian. Mungkin saya akan disibukkan nantinya dengan kegiatan saya mendokumentasikan beragam keindahan yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Lalu menulis pengalaman-pengalaman saya mengenai apa yang saya lihat dan rasakan di setiap perjalanan saya dan membagikannya secara luas, sehingga dapat menginspirasi banyak orang. Atau malah, saya akan dapat membuat stasiun televisi sendiri yangmana nantinya akan saya gunakan untuk memberikan inspirasi dalam berbagai hal kepada setiap orang yang menonton program-program yang tersaji disana. Bukan sebagai sarana untuk berkampanye dan mengumbar janji-janji perubahan demi masa depan negeri ini yang sedikit demi sedikit mengalami fase-fase kemunduran. Ya, kemunduran dalam segala hal. Yang ditandai dengan matinya kreatifitas serta ketiadaan tempat bagi ide-ide yang berkualitas yang sekiranya dapat membawa perubahan. Walaupun kecil sekalipun.


"Oh baby, baby, it's a wild world
 It's hard to get by just upon a smile
(yeah...) Oh baby, it's a wild world
I'll always remember you like a child girl.."


"Wild world" -Mr. BIG-

Sabtu, 11 Januari 2014

Menguak memori lama dan tentang selera musik.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-12]


"I'm the one who wants to be with you
Deep inside I hope you feel it too
Waited on a line of greens and blues
Just to be the next to be with you.."

"To be with you" -Mr. BIG-


Bersamaan dengan penggalan lirik atau tepatnya reff yang saya tulis diatas, saya sedang mendengarkan lagu-lagu lawas di media player laptop saya. Sudah beberapa minggu belakangan ini saya sibuk mencari-cari dan mengunduh lagu-lagu lama yang sekiranya membuat saya dejavu akan masa-masa yang pernah saya lewati ketika kecil dulu. Bisa dibilang kalau saya ini adalah orang yang telat mengenal musik. Bila dibandingkan dengan teman-teman saya di kampus, saya adalah orang yang paling minim pengetahuan musiknya dibandingkan mereka. Yang menjadi hal tersebut kontras dengan diri saya adalah mungkin karena saya berambut gondrong, suka berkemeja flanel dan memakai celana jeans yang bagian dengkulnya robek karena sering bergesekan dengan gazebo tempat saya biasa nongkrong di kampus. Balik lagi mengenai kedejavuan saya terhadap masa kecil saya. Rasa dejavu yang saya rasakan ini adalah ketika saya sedangg mendengarkan lagu yang sekiranya saya anggap bagus dan enak untuk didengarkan, saya merasa kalau saya pernah mendengarnya ketika saya masih kecil dulu. Entah dimana dan kapan tepatnya saya mendengarkan lagu-lagu tersebut, yang jelas kata-kata dan irama musik yang sedang saya dengar tersebut seperti familiar di telinga saya. Kalau saja telinga saya bisa berkata dan berbisik kepada saya, mungkin ia akan mengatakan saya bodoh karena saya hanya berpikir kalau sepertinya saya pernah, padahal saya memang pernah.
Hahaha.. :))
Satu hal mengenai musik ini, saya benar-benar menyayangkan kondisi yang terjadi disini. Hampir tidak ada lagi channel televisi yang menampilkan program-program musik yang menurut saya berkualitas. Kalaupun ada, umurnya tidak panjang (lama). Mungkin memang ada satu hal dan hal lainnya yang menyebabkan hal itu terjadi, yang rasanya malas untuk saya jabarkan disini. Kalaupun ingin saya jabarkan, mungkin saya tidak akan dapat menjabarkannya dengan panjang lebar dan sistematis, seperti layaknya kritikus musik. Saya hanya penikmat musik biasa dan saya pun sadar kalau pengetahuan saya tentang musik adalah minim. Saya hanya sekedar penikmat musik yang menikmati musik dan lagu yang menurut telinga saya bagus untuk didengarkan, tanpa paksaan dan hampir tanpa pengaruh dari apapun. Kalaupun ada pengaruh, saya hanya tidak sengaja mendengar apa yang sedang diputar oleh teman saya atau beberapa media (seperti televisi, radio) dan merasa bahwa apa yang saya dengar saat itu memang bagus adanya dan layak untuk didengarkan. Bukan seperti orang-orang itu. Orang yang selera musik beserta seperangkat alat pendengarannya bisa disewa dengan harga lima puluh ribu rupiah, dibayar tunai. Bahkan bukan selera dan alat pendengarannya saja yang bisa disewa, harga dirinya juga.
Jujur, saya jijik melihat sekumpulan orang (pria dan wanita dan setengah pria setengah wanita) bermake-up tebal dan dandanan maksimal bertabrak-tabrak ala Harajuku jadi-jadian. Mereka kadang duduk dan tertawa terbahak-bahak untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditertawakan, yang bahkan saya sendiri tidak mengerti dimana letak kelucuannya. Kadang pula berdiri, sembari bersorak-sorai menyerukan para bintang-bintang yang kebanyakan seperti produkan pabrik yang tidak lolos QC. Ironis memang. Tapi ini adalah kenyataan. Tepatnya sebuah kenyataan tentang sebuah kemunduran. Katakan saja kemunduran kalau kata kehancuran dirasa sangat menyakitkan bagi kita. Kata kemunduran bagi saya masih memiliki titik terang dibandingkan kehancuran. Kata kemunduran bagi saya, berarti masih memiliki harapan untuk dapat diperbaiki. Walaupun memang agak susah, tapi pasti ada jalan.
Tapi, ah sudahlah. Semakin saya berkata-kata nantinya, semakin banyak lagi saya mengeluarkan umpatan. Saya tidak ingin memperbanyak catatan dosa-dosa saya yang sedang dipegang oleh malaikat. Dan rasanya, tidak adil kalau saya hanya mengumbar-umbar kejelekan yang dimiliki orang lain. Saya pun demikian. Saya sering kesal ketika saya mendengar ada orang yang membicarakan kelemahan-kelemahan saya, walaupun saya angggap hal tersebut bukanlah hal yang "worth it" untuk dibicarakan. Rasanya, saya pun tidak mempunyai solusi untuk menanggulangi masalah kemunduran tersebut. Masalah selera, mungkin lebih baiknya saya akan berprinsip "Seleraku, ya seleraku. Seleramu, ya seleramu". Tenang saja, masih banyak cara untuk memenuhi hasrat akan pemenuhan selera. Dunia ini masih amat sangat luas bung :)

Kemangkiran dari tantangan. Tentang postingan ke-11

One day, one post (or more) - [Postingan ke-11]


Oke, nampaknya saya sadar kalau beberapa hari ini saya telah mangkir dari tantangan One day, one post (or more) yang saya buat sendiri.
Seperti anak baru gede yang kemarin sedang asyik dengan mainan barunya untuk beberapa hari, lalu kemudian merasa bosan dan jenuh.
Saya sendiri sebenarnya bukan merasa bosan, apalagi jenuh. Saya hanya sering merasa lupa terhadap satu atau beberapa hal lainnya dalam keseharian saya, baik penting ataupun tidak penting sekalipun. Selain itu, ditambah pula oleh pikiran bahwa saya sedang tidak mempunyai ide atau hal-hal menarik yang dapat saya tulis di blog ini. Padahal saya pernah menulis ini sebelumnya dan saya rasa saya masih punya memiliki beberapa bahan setengah matang untuk kemudian disajikan dalam bentuk tulisan di blog ini.
Akan tetapi kalau boleh jujur, saya memang sedang merasakan bosan yang teramat sangat. Dan saya pikir, kebosanan merupakan rasa yang masih manusiawi yang dimiliki oleh seorang manusia. Sialnya, saya masih belum menemukan cara bagaimana mengatasi rasa bosan tersebut, sehingga saya dapat melupakan sejenak bahwa saya sedang berada dalam titik jenuh atau kebosanan yang teramat sangat tadi.


Saya serasa ingin pergi ke sebuah atau beberapa tempat yang sangat jauh, yang sekiranya dapat membuat saya melupakan kebosanan yang bakal menjadi-jadi kalau dirasakan.

Saya ingin pergi menuju ke puncak gunung, menikmati dinginnya malam dengan memandangi bintang-bintang.

Saya ingin pergi ke pantai, menikmati angin yang berhembus sambil bernyanyi dan memetik gitar.

Saya ingin pergi ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan, kebaikan, ketulusan dan kemurahan hati dari orang-orang di sekitar saya.


Tapi, rasanya tidak semua yang saya inginkan akan dapat saya wujudkan.
Saya pesimis?
Sedikit.
Tidak ada manusia yang sempurna bukan di dunia ini?..
Orang baik sekalipun ada yang membenci.
Orang jahat sekalipun masih memiliki perasan cinta dan sayang, walaupun kepada dirinya sendiri.
Yang mengerti saya adalah diri saya sendiri dan saya berkata demikian bukan tanpa alasan.
Karena, selalu ada alasan bukan untuk segala sesuatu yang terjadi di dunia ini? :)

Senin, 06 Januari 2014

Tentang diri saya dan imajinasi.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-10]


Tentang imajinasi..

Hari Senin.
Hari dimana orang-orang kembali bertemu dengan keadaan yang hectic dan serba terburu-buru. Saya bisa bilang demikian, karena pagi ini saya berlaku sebagai saksi mata sekaligus pelakunya. Hahaha..
Semua ingin dapat bergerak cepat.
Semua ingin menjadi yang terdepan.
Semua ingin penguasa jalan.
Hal yang sangat amat lumrah ditemui di kala Senin pagi di jalanan Ibukota.

Kali ini, saya ingin membuat tulisan singkat tentang imajinasi. Katakanlah pula mimpi, impian dan segala hal yang berhubungan akannya. Keinginan ini muncul ketika saya berjuang pasif sendirian melawan sambaran kencang angin, yang berhembus dari dua asal dan sisi yang berbeda. Tiba-tiba saja saya berimajinasi. Seketika saya membayangkan diri saya menjadi seorang pemain gitar yang handal, tanpa cela. Tentu ini tidak ada hubungannya dengan angin bahkan perjuangan saya melawan angin tersebut. Namanya saja imajinasi, bisa secara sadar hadir, bisa juga tidak. Yang jelas, saya masih tetap setia duduk di depan laptop saya sambil mendengarkan playlist lagu di laptop saya tersebut.
Saya membayangkan bahwa ketika saya menjadi seorang pemain gitar yang piawai memainkan gitar, saya hampir tidak akan berada pada momen dimana kesepian menjadi momok. Walaupun saya sedang berada di tempat yang jauh sekalipun dan tanpa ada satu orang pun yang saya kenal saat berpapasan. Saya membayangkan bahwa saya akan selalu merasa damai dan bahagia ketika jari-jari jemari saya memetik senar demi senar. Dan saya tetap akan menikmati irama nada, bahkan untuk irama-irama bernada pesimis sekalipun. Lalu saya berjalan menyusuri lika-liku perjalanan hidup saya yang telah digariskan sebelumnya, dengan selalu menggendong gitar dipunggung saya. Saya ingin berjalan tanpa keraguan-raguan, ketakutan akan menghadapi masa depan.

Tanpa peduli sedikitpun kalau orang-orang di sekitar saya telah banyak yang menjadi buas. Rakus dan saling memakan antar sesamanya.

Tanpa peduli bagaimana saya harus memperlakukan orang-orang di sekitar saya dan apa yang akan mereka perlakukan kepada saya sebaliknya.

Tanpa peduli berapa lama lagi saya hidup di alam semesta ini.

Tanpa memiliki kekhawatiran tentang hal-hal yang tidak dapat saya perbuat.
Semua itu karena saya begitu mencintai diri saya. Mencintai apa yang dianugrahkan-Nya kepada saya. Dan saya akan merasa bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bahkan kiamat sekalipun.
Terkesan berlebihan memang, namun imajinasi tidak memiliki batas. Bebas. Tidak terikat.
Sekali lagi, tanpa batas.

Minggu, 05 Januari 2014

Buku fotografi dan harapan.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-9]


"If you only read the books that everyone else is reading,
you can only think what everyone else is thinking"
-Haruki Murakami-


Hari minggu kemarin, tepatnya pada malam hari sekitar pukul 19.00 saya pergi ke sebuah toko buku besar yang berada tidak jauh dari tempat tinggal saya. Sebenarnya, sudah dari beberapa hari yang lalu saya mempunyai rencana untuk membeli beberapa buah buku. Dengan tujuan untuk mengisi sebagian aktivitas liburan saya dengan membaca. Akan tetapi, lagi-lagi rasa mager (malas gerak) berhasil membujuk saya untuk berdiam diri di rumah. Duduk di depan laptop dan mendengarkan lagu-lagu kegemaran saya, sambil mengecek apakah masih ada file foto yang masih bisa saya edit.
Akhirnya kemarin malam, saya memutuskan untuk pergi dan berhasil membawa pulang dua buah buku tentang fotografi. Awalnya saya sempat ragu untuk membeli buku-buku tersebut. Selain karena harganya yang lumayan mahal, saya takut nantinya buku-buku tersebut hanya menjadi hiasan bertumpuk di meja belajar saya. Toh, kalau mau di internet saya bisa menemukan banyak bahan bacaan dan pastinya banyak juga buku-buku atau majalah-majalah yang bisa diunduh secara gratis (mental orang Indonesia :muntah).
Akan tetapi setelah membolak-balik halaman demi halaman dari kedua buku tersebut, saya meyakinkan diri saya sendiri untuk membeli kedua buku tersebut. Tentunya sambil berharap bahwa saya menemukan kembali semangat baca saya, terlebih kedua buku tersebut berhubungan dengan dunia yang saya sukai. Fotografi.
Then, here they are!




Ada sedikit cerita menarik ketika saya membeli kedua buku tersebut. Hal ini terjadi ketika saya sedang melakukan pembayaran di kasir. Kebetulan antrian sedang tidak ramai dan saya langsung menaruh kedua buku tersebut di meja kasir. Kasir wanita yang sedang melakukan scanning barcode bertanya kepada saya "Wow, buku ini harganya 150k mas?" dan saya mengiyakan pertanyaannya. Lalu kasir wanita yang usianya sekitar 40an itu bilang kepada saya bahwa beliau mempunyai buku yang sama seperti yang saya beli. Kemudian beliau melanjutkan cerita singkatnya, tanpa saya interupsi dulu dengan pertanyaan yang mungkin bisa saya lontarkan saat itu juga.
"Saya kemarin baru saja selesai pelatihan dan di pelatihan itu saya diberi buku ini juga. Tapi saya gak tau kalau harga bukunya semahal ini. Hahaha.. (seraya tertawa kecil)". Setelah itu baru saya bertanya kepada beliau tentang pelatihan yang dimaksudnya. Ternyata, beliau juga sedang menekuni hobi fotografi dan pelatihan yang dikutinya bukan hanya pelatihan fotografi semata. Beliau bilang bahwa di pelatihan tersebut, diajari juga tentang bagaimana kiat-kiat memulai dan menjalani bisnis di bidang fotografi.
"Wow, menarik banget ya bu kayaknya pelatihannya", kata saya. Sekaligus sebagai kata penutup dari perbincangan singkat kami di meja kasir malam itu. Dan beliau pun turut mengiyakan. Di sebelah saya juga sudah berdiri pengunjung yang juga akan membayar buku yang dibelinya. Tapi sebelum saya pamit keluar dari toko, beliau berpesan kepada saya "Semoga sukses ya mas dengan buku-bukunya! :) ", sambil melempar senyum ke arah saya. Saya pun mengiyakan dan membalas ucapannya "Sukses juga ya bu! Terima kasih banyak :) ".

Sabtu, 04 Januari 2014

Cahaya bulan, itulah senyummu bagiku.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-8]


Dan cahaya bulan pun akan tetap indah meski kadang terselimuti oleh awan hitam.

Seperti senyummu yang tak pernah terlihat pudar dan menyemu.

Meski apa yang kau rasakan tak seindah senyummu.

Jumat, 03 Januari 2014

Kecelakaan di perbatasan kereta Tanjung Barat.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-7]



(Rabu, 14 Agustus 2013)
. . . .

Di sore itu, saya sedang mengendarai motor saya dalam perjalanan pulang dari depok menuju ke rumah. Seperti biasanya, rute jalan yang saya lalui adalah rute jalan yang nantinya akan melewati sebuah perlintasan kereta listrik Commuter Line (KCL). Akan tetapi di sore itu, saya bukan habis mengikuti kuliah di kampus melainkan membeli flashdisk pesanan adik saya di daerah jalan raya Margonda, Depok. Setelah sebelumnya saya pergi hunting foto ke daerah Gambir, tepatnya ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Entah kenapa, saya kepikiran untuk membeli flashdisk tersebut disana. Padahal, kalau saya mau, saya bisa melanjutkan perjalanan saya setelah hunting foto untuk menuju ke Mangga Dua. Dan apabila dibandingkan antara jarak keduanya, seharusnya pergi ke Mangga Dua menjadi solusi yang ideal untuk saya. Apalagi setelah sebelumnya saya bergelut dengan cuaca panas dan terik ditambah pula dengkul yang lecet akibat kelamaan duduk setengah berjongkok, mencium lantai dan aspal panas.

Catatan:
FYI, rute yang bisa saya gunakan untuk pulang ada dua. Rute pertama adalah rute Kampus UI-Tanjung Barat-Pasar Minggu-Cililitan-Rumah dan rute Kampus UI-Tanjung Barat-Pasar Rebo-Garuda-Rumah.
Ya, mungkin saja Yang diatas sudah punya rencana lain (halah bahasanya). Akhirnya saya melajukan motor saya menuju Depok dan pulang dengan membawa sebuah flashdisk berkapasitas 8GB. Awalnya, perjalanan berjalan lancar dan normal. Saya hanya melewati jalanan yang biasanya memang cukup lancar merayap, terlebih saya pulang disaat jam pulang kantor. Keadaan berubah setelah saya akan melewati jalan raya Tanjung Barat, yang terdapat palang perlintasan kereta. Kondisi macet total alias tidak dapat bergerak sama sekali. Sempat terpikir oleh saya untuk melewati rute Pasar Minggu, akan tetapi saya akhirnya lebih memilih menunggu ditengah-tengah kemacetan setelah tahu ada sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi di dekat palang perlintasan kereta Tanjung Barat tersebut. Kecelakaan yang membuat hampir semua pengendara motor turun dari motornya dan mengeluarkan handphonenya dari saku celana masing-masing.

Sebuah mobil berukuran sedang dengan kapasitas maksimal 8 orang, yang mengangkut pekerja media berita online, tertabrak kereta hingga terbalik. Memang saya tidak melihat secara langsung kronologis kejadiannya. Tetapi dari apa yang saya lihat setelah kecelakaan terjadi, saya mempunyai kesimpulan kalau mobil tersebut memang tepat tertabrak oleh bagian depan kereta. Mengingat kondisi mobil yang cukup parah, dan juga para penumpangnya yang bersimbah darah. Saat berada di tempat kejadian, saya melihat sudah ada polisi dan petugas lainnya yang sedang berusaha mengevakuasi korban dan melakukan peninjauan, serta meminta keterangan dari beberapa pengendara yang mungkin merupakan saksi mata kejadian.
Menurut beberapa orang pengendara yang telah ada di lokasi kejadian, mobil tersebut mencoba menerobos perlintasan kereta. Padahal yang saya ketahui, palang perlintasan disana masih berfungsi dengan baik dan speaker yang membunyikan tanda peringatan datangnya kereta juga masih berfungsi. Sayangnya, saya tidak mengorek keterangan lebih banyak lagi mengenai kronologis kecelakaan tersebut. Karena pikiran saya langsung tertuju pada kamera yang saya bawa dan apa yang dapat saya abadikan saat itu dengan menggunakan kamera saya. Ya, sebagai seorang yang memiliki naluri jurnalis (dadakan) dan kebetulan pula sedang membawa kamera, saya pastinya berniat untuk mengambil foto dari lokasi kejadian.

Sempat ada perasaan ragu, antara turun dari motor atau mencoba mengambil beberapa foto dengan tetap duduk diatas motor saya. Keraguan itu muncul karena saya tidak menemukan tempat yang sekiranya layak untuk memarkirkan sepeda motor saya. Kecuali menepikan kesayangan berwarna biru saya itu di dekat tiang pondasi fly over yang berada tepat di sisi luar perlintasan kereta. Dan untungnya ada seorang mas-mas yang bisa saya mintai tolong untuk dititipkan motor, daripada saya memarkirkan motor saya di belakang palang perlintasan. Bukan tidak mungkin motor saya nantinya akan menghalangi pengendara lain yang akan melanjutkan perjalanannya.
Bak tidak mau kalah dengan jurnalis-jurnalis dadakan lainnya, di bawah ini adalah foto yang berhasil saya ambil dari sisa-sisa tragedi kecelakaan di perlintasan kereta Tanjung Barat tersebut.

1. Seorang ibu menunjuk ke arah belakang saya, dengan maksud memberitahu saya bahwa korban sedang akan diangkut dengan menggunakan ambulans. Sementara posisi saya saat itu sedang membidik kamera ke arah depan, mencoba mengambil gambar suasana di dekat lokasi kejadian.

2. Setelah menyadari maksud dari ibu tadi, saya pun menoleh ke belakang dan mendapati bahwa korban yang menumpang mobil naas tersebut sudah berada di dalam mobil ambulans. Sekilas saya melihat kondisi korban yang lumayan parah, dengan adanya kucuran darah yang berasal dari kepala korban.

3. Seorang pengendara motor yang terjebak macet di jalan perlintasan kereta tersebut, beranjak dari motornya untuk turut menyaksikan proses evakuasi korban dan investigasi kecelakaan yang dilakukan oleh polisi.

4. Bayi yang berada di depan saya memandang heran pada kerumunan yang ada di belakang saya, dimana orang-orang meminggirkan kendaraan-kendaraan mereka, seraya ikut mengambil gambar melalui kamera ponse

5. Seorang pengendara motor melihat dengan raut wajah penasaran. Dan secara tidak sengaja saya merekam pula ekspresi yang sama dari 2 orang pengendara motor lainnya, yang memperlihatkan raut penasaran di wajah mereka tentang kejadian kecelakaan tersebut.

6. Setelah memarkirkan motor saya di tempat yang aman, saya pun berjalan mendekati TKP, dengan tujuan untuk dapat mengambil gambar lebih banyak lagi. Dan di lokasi kejadian pun, sudah banyak orang yang turut serta menjadi jurnalis dadakan seperti saya dengan menggunakan kamera dan teknologi layar sentuh dari gadgetnya. Mungkin hanya di momen seperti ini saja, tidak akan ditemui orang-orang yang melakukan aksi narsisme, seperti melempar senyum 3 jari dan berpose sambil memegang kepala di dekat lokasi kejadian.

7. Beberapa pengendara kendaraan masih terlihat memadati area di belakang batas perlintasan rel kereta. Hal ini dikarenakan selain terdapat kereta yang sedang melintas, para pengendara tersebut terlihat antusias untuk menyaksikan sisa-sisa kejadian yang berlangsung dengan cepat tersebut.

8. Seorang pengendara motor yang masih mengenakan helm, mendekati mobil yang mengalami kecelakaan tersebut. Sambil mengamati dengan seksama bagian-bagian dari mobil yang mengalami kerusakan parah.

9. Sebelum pamit dari lokasi kejadian, saya menyempatkan diri mengambil beberapa buah foto dari mobil naas tersebut. Dan menurut saya foto ini cukup menggambarkan bagaimana parahnya kondisi mobil tersebut, begitupula dengan kondisi para korban yang menumpang mobil tersebut.

Akhir kata, foto-foto diatas menjadi "buah tangan" yang saya bawa pulang bersamaan dengan perasaan was-was ketika melajukan motor saya. Sekiranya disiplin dalam berkendara dan kepatuhan terhadap peraturan dalam berlalu lintas dapat dilakukan demi menghindarkan diri dari kejadian yang tidak diinginkan, seperti kejadian diatas. Palang perlintasan kereta api/listrik dibuat bukan hanya untuk menandakan adanya kereta yang melintas, tetapi untuk membatasi jangkauan kendaraan agar terhindar dari kecelakan. Karena sudah banyak kecelakaan yang terjadi akibat kendaraan yang berusaha menerobos perlintasan kereta yang akan dilewati oleh kereta api/listrik. Dan jika aturan-aturan tersebut dilanggar, maka jangan salahkan kencangnya laju kereta yang dapat "melanggar" keberlangsungan hidup kita saat itu juga.