(Rabu, 14 Agustus 2013)
. . . .
Di sore itu, saya sedang mengendarai motor saya dalam perjalanan pulang dari depok menuju ke rumah. Seperti biasanya, rute jalan yang saya lalui adalah rute jalan yang nantinya akan melewati sebuah perlintasan kereta listrik Commuter Line (KCL). Akan tetapi di sore itu, saya bukan habis mengikuti kuliah di kampus melainkan membeli flashdisk pesanan adik saya di daerah jalan raya Margonda, Depok. Setelah sebelumnya saya pergi hunting foto ke daerah Gambir, tepatnya ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Entah kenapa, saya kepikiran untuk membeli flashdisk tersebut disana. Padahal, kalau saya mau, saya bisa melanjutkan perjalanan saya setelah hunting foto untuk menuju ke Mangga Dua. Dan apabila dibandingkan antara jarak keduanya, seharusnya pergi ke Mangga Dua menjadi solusi yang ideal untuk saya. Apalagi setelah sebelumnya saya bergelut dengan cuaca panas dan terik ditambah pula dengkul yang lecet akibat kelamaan duduk setengah berjongkok, mencium lantai dan aspal panas.
Catatan:
FYI,
rute yang bisa saya gunakan untuk pulang ada dua. Rute pertama adalah
rute Kampus UI-Tanjung Barat-Pasar Minggu-Cililitan-Rumah dan rute
Kampus UI-Tanjung Barat-Pasar Rebo-Garuda-Rumah.
Ya, mungkin saja Yang diatas sudah punya rencana lain (halah bahasanya). Akhirnya saya melajukan motor saya menuju Depok dan pulang dengan membawa sebuah flashdisk berkapasitas 8GB. Awalnya, perjalanan berjalan lancar dan normal. Saya hanya melewati jalanan yang biasanya memang cukup lancar merayap, terlebih saya pulang disaat jam pulang kantor. Keadaan berubah setelah saya akan melewati jalan raya Tanjung Barat, yang terdapat palang perlintasan kereta. Kondisi macet total alias tidak dapat bergerak sama sekali. Sempat terpikir oleh saya untuk melewati rute Pasar Minggu, akan tetapi saya akhirnya lebih memilih menunggu ditengah-tengah kemacetan setelah tahu ada sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi di dekat palang perlintasan kereta Tanjung Barat tersebut. Kecelakaan yang membuat hampir semua pengendara motor turun dari motornya dan mengeluarkan handphonenya dari saku celana masing-masing.
Sebuah mobil berukuran sedang dengan kapasitas maksimal 8 orang, yang mengangkut pekerja media berita online, tertabrak kereta hingga terbalik. Memang saya tidak melihat secara langsung kronologis kejadiannya. Tetapi dari apa yang saya lihat setelah kecelakaan terjadi, saya mempunyai kesimpulan kalau mobil tersebut memang tepat tertabrak oleh bagian depan kereta. Mengingat kondisi mobil yang cukup parah, dan juga para penumpangnya yang bersimbah darah. Saat berada di tempat kejadian, saya melihat sudah ada polisi dan petugas lainnya yang sedang berusaha mengevakuasi korban dan melakukan peninjauan, serta meminta keterangan dari beberapa pengendara yang mungkin merupakan saksi mata kejadian.
Menurut beberapa orang pengendara yang telah ada di lokasi kejadian, mobil tersebut mencoba menerobos perlintasan kereta. Padahal yang saya ketahui, palang perlintasan disana masih berfungsi dengan baik dan speaker yang membunyikan tanda peringatan datangnya kereta juga masih berfungsi. Sayangnya, saya tidak mengorek keterangan lebih banyak lagi mengenai kronologis kecelakaan tersebut. Karena pikiran saya langsung tertuju pada kamera yang saya bawa dan apa yang dapat saya abadikan saat itu dengan menggunakan kamera saya. Ya, sebagai seorang yang memiliki naluri jurnalis (dadakan) dan kebetulan pula sedang membawa kamera, saya pastinya berniat untuk mengambil foto dari lokasi kejadian.
Sempat ada perasaan ragu, antara turun dari motor atau mencoba mengambil beberapa foto dengan tetap duduk diatas motor saya. Keraguan itu muncul karena saya tidak menemukan tempat yang sekiranya layak untuk memarkirkan sepeda motor saya. Kecuali menepikan kesayangan berwarna biru saya itu di dekat tiang pondasi fly over yang berada tepat di sisi luar perlintasan kereta. Dan untungnya ada seorang mas-mas yang bisa saya mintai tolong untuk dititipkan motor, daripada saya memarkirkan motor saya di belakang palang perlintasan. Bukan tidak mungkin motor saya nantinya akan menghalangi pengendara lain yang akan melanjutkan perjalanannya.
Bak tidak mau kalah dengan jurnalis-jurnalis dadakan lainnya, di bawah ini adalah foto yang berhasil saya ambil dari sisa-sisa tragedi kecelakaan di perlintasan kereta Tanjung Barat tersebut.
1. Seorang ibu menunjuk ke arah belakang saya, dengan maksud memberitahu saya bahwa korban sedang akan diangkut dengan menggunakan ambulans. Sementara posisi saya saat itu sedang membidik kamera ke arah depan, mencoba mengambil gambar suasana di dekat lokasi kejadian.
2. Setelah menyadari maksud dari ibu tadi, saya pun menoleh ke belakang dan mendapati bahwa korban yang menumpang mobil naas tersebut sudah berada di dalam mobil ambulans. Sekilas saya melihat kondisi korban yang lumayan parah, dengan adanya kucuran darah yang berasal dari kepala korban.
3. Seorang pengendara motor yang terjebak macet di jalan perlintasan kereta tersebut, beranjak dari motornya untuk turut menyaksikan proses evakuasi korban dan investigasi kecelakaan yang dilakukan oleh polisi.
4. Bayi yang berada di depan saya memandang heran pada kerumunan yang ada di belakang saya, dimana orang-orang meminggirkan kendaraan-kendaraan mereka, seraya ikut mengambil gambar melalui kamera ponse
5. Seorang pengendara motor melihat dengan raut wajah penasaran. Dan secara tidak sengaja saya merekam pula ekspresi yang sama dari 2 orang pengendara motor lainnya, yang memperlihatkan raut penasaran di wajah mereka tentang kejadian kecelakaan tersebut.
6. Setelah memarkirkan motor saya di tempat yang aman, saya pun berjalan mendekati TKP, dengan tujuan untuk dapat mengambil gambar lebih banyak lagi. Dan di lokasi kejadian pun, sudah banyak orang yang turut serta menjadi jurnalis dadakan seperti saya dengan menggunakan kamera dan teknologi layar sentuh dari gadgetnya. Mungkin hanya di momen seperti ini saja, tidak akan ditemui orang-orang yang melakukan aksi narsisme, seperti melempar senyum 3 jari dan berpose sambil memegang kepala di dekat lokasi kejadian.
7. Beberapa pengendara kendaraan masih terlihat memadati area di belakang batas perlintasan rel kereta. Hal ini dikarenakan selain terdapat kereta yang sedang melintas, para pengendara tersebut terlihat antusias untuk menyaksikan sisa-sisa kejadian yang berlangsung dengan cepat tersebut.
8. Seorang pengendara motor yang masih mengenakan helm, mendekati mobil yang mengalami kecelakaan tersebut. Sambil mengamati dengan seksama bagian-bagian dari mobil yang mengalami kerusakan parah.
9. Sebelum pamit dari lokasi kejadian, saya menyempatkan diri mengambil beberapa buah foto dari mobil naas tersebut. Dan menurut saya foto ini cukup menggambarkan bagaimana parahnya kondisi mobil tersebut, begitupula dengan kondisi para korban yang menumpang mobil tersebut.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar