Kamis, 02 Januari 2014

Tentang waktu. Sebuah analogi.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-4]
 

"I close my eyes, only for a moment, and the moment's gone
All my dreams, pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind, all they are is dust in the wind"

"Dust in The Wind" -KANSAS-


Sebuah analogi.

Hari Kamis, 02-01-2014; 00.17am

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat.
Rasanya baru kemarin maghrib saya dan teman-teman satu RT yang sebaya, selesai bermain sepak bola di tanah lapang yang tadinya merupakan rawa-rawa dan semak belukar bertahta duri-duri berwarna hijau menua. Sehingga hampir selalu dapat dipastikan bahwa selepas bermain kami mewajibkan diri kami masing-masing untuk mencabuti duri-duri yang sekiranya mencium telapak kaki kami yang telanjang.
Lalu beberapa waktu sesudahnya, di siang hari yang begitu eksotik teriknya, saya berlari-lari dengan membawa galah bambu yang saya gunakan untuk mengambil layang-layang yang menyangkut di atas pohon. Entah milik siapa layangan-layangan tersebut, yang pasti pada saat itu hukum rimba berlaku dan berbunyi seperti ini:
"Barang siapa yang menemukan layangan dengan tali yang telah putus, maka layangan itu akan menjadi jodohnya kelak".
Sekilas bunyinya seperti sayembara dari sebuah kerajaan antah berantah. Dan layangan tersebut diibaratkan sebagai putri raja yang hilang atau malah tertukar dengan anak seorang pembantu raja yang telah kabur entah kemana.
Sesekali teman saya mengajak saya memancing. Memancing di rawa-rawa yang masih meninggalkan bekas-bekas jaman keemasannya dan sempat menjadi primadona di wilayah tempat tinggal kami. Layaknya pemancing profesional, saya dan teman-teman saya pun membeli peralatan yang sekiranya bisa menghiasi joran pancing kami yang terbuat dari serutan bambu tua berwarna coklat tua. Walau tidak jarang, kami hanya bisa membawa pulang plastik kiloan berair yang terisi oleh anakan-anakan ikan, mulai dari sepat, gabus dan betok.

Yaa, masa-masa itu pernah saya lewati apalagi saya tumbuh dan besar di tengah-tengah pemukiman yang terbilang padat. Pemukiman yang masih dihiasi dengan pemandangan berupa hamparan semak-semak atau rawa dan kebun-kebun kecil nan lebat dihinggapi oleh tanaman-tanaman parasit. Sekarang, pemandangan tersebut hampir tidak dapat saya temukan lagi.
Hampir tidak dapat saya lihat bocah-bocah ingusan dan remaja korengan berlari-lari mengejar layangan. Hampir tidak dapat saya lihat tim kesebelasan sepak bola kampung yang berebut bola bliter yang kulitnya sudah banyak termakan tanah dan bebatuan kerikil.
Hampir tidak dapat saya lihat orang yang menenggelamkan setengah badannya ke rawa-rawa untuk mengamankan benang pancingnya yang digigit biang ikan yang kabur dan masuk ke dalam rawa-rawa tersebut.

"Waktu cepat sekali berjalan".
Sebuah kata yang seringkali diucapkan mengenai waktu.
Kata yang selalu bisa membuat saya menghela nafas dan menghening untuk beberapa saat ketika saya bergumam akannya. Semua momen-momen terbaik yang pernah terjadi dan terlewati dalam hidup, memang tidak akan pernah terulang kembali. Kalaupun bisa dipaksakan, tidak akan sama. Hampir tidak ada pengecualian.

"Dan ketika kita menyia-nyiakan waktu kita, sesungguhnya kita telah menumpuk bibit-bibit penyesalan dalam hidup kita"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar