One day, one post (or more) - [Postingan ke-2]
I don't think we're the same person all our lives."
-Steven Spielberg-
Happy New Yeahh 2014 !!!
Tengah malam ini, hampir semua postingan kata entah di status facebook atau kicauan di twitter mengucapkan hal yang sama. "Selamat Tahun Baru 2014", dengan gaya penulisan dan kalimat yang beragam. Ya, lewat tengah malam tadi, tepatnya pada 01 Januari 2014 pukul 00.01am telah terjadi lagi peristiwa pergantian tahun. Peristiwa pergantian tahun ini memang telah mentradisi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia dan dirayakan oleh jutaan atau bahkan miliaran manusia di muka bumi ini. Di wilayah Indonesia sendiri (terutama Jakarta), perayaan tahun baru dipusatkan di beberapa tempat rekreasi dan tempat yang merupakan ikon dari kota Jakarta. Rangkaian kegiatannya hampir sama, dimana terdapat panggung-panggung pementasan acara kesenian yang meliputi musik, tari-tarian sampai pentas wayang. Tidak lupa, perayaan tahun baru tersebut dimeriahkan pula oleh letusan-letusan kembang api dengan beragam corak letusan dan warnanya. Lautan manusia pun terlihat memadati spot-spot atau lokasi-lokasi yang merupakan pusat dimana acara perayaan tahun baru diadakan.
Selama 25 tahun saya menghirup polusi di Jakarta, belum pernah saya merayakan tahun baru seperti yang dilakukan kebanyakan orang tersebut. Beberapa kali teman saya mengajak saya untuk berkeliling-keliling di pusat kota dan berkali-kali pula saya tolak dengan halus. Dengan alasan kalau tidak akan ada kegiatan berarti yang bisa dilakukan di tengah keramaian yang menjadi-jadi dan penuh sesak, yang bahkan untuk berjalan saja sulit untuk dilakukan. Nyatanya, pada perayaan pergantian tahun kemarin terdapat berita yang menyatakan kematian seorang pemuda dikarenakan penyakit asmanya yang kambuh karena kecapaian dan kurang mendapat oksigen ketika berada ditengah2 kerumunan. Hal ini seakan kontras dengan kemeriahan yang digembar-gemborkan oleh berbagai media mengenai kemeriahan perayaan tahun baru. Sementara di sisi lain terdapat kejadian yang tidak diharapkan dan tidak terjadi di momen seperti itu.
Saya sendiri pada dasarnya adalah orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian, terlebih keramaian macam tersebut. Sehingga hampir tidak ada alasan bagi saya untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan sebagian besar orang di malam pergantian tahun. Saya lebih memilih untuk tinggal di rumah dan menghabiskan malam pergantian tahun dengan menonton televisi, menjelajahi dunia maya dan bercengkrama dengan keluarga atau teman-teman. Seperti pada malam perayaan pergantian tahun 2 tahun yang lalu. Saya berkumpul dengan teman-teman kuliah di rumah kontrakan yang memang kami jadikan basecamp untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Di rumah tersebut saya tinggal berlima dengan teman saya yang lainnya. Seingat saya, kurang lebih ada 10 orang pada saat itu. Kami menyongsong malam pergantian tahun dengan membeli bahan makanan berupa ikan segar dan jagung mentah untuk dibakar dan dimakan bersama pada malam itu. Tidak lupa acara minum-minum bersama dengan beberapa botol Fanta dan Coca-Cola :p. Bukan dengan minuman sejenis anggur atau beer dengan kadar alkohol yang menjadi-jadi. Karena kami hanya sekumpulan pemuda dan pemudi baik yang merayakan pergantian tahun di rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempat peribadahan umat Muslim (no SARA).
Selesainya acara makan, minum dan merokok bersama, kami melanjutkan aktivitas kami masing-masing. Ada yang menghabiskan malam dengan pulang ke rumah dan tidur, ada yang menonton televisi ataupun memutar simpanan film untuk ditonton bersama sampai tertidur pulas. Keesokan harinya, rutinitas tetap sama seperti rutinitas di tahun sebelumnya. Kalaupun ada yang berubah, hanya pakaian yang kami kenakan pada hari itu dan menu makanan yang kami makan di kantin kampus. Selebihnya paling bungkusan rokok dengan merek yang berbeda dengan tadi malam, biar kelihatan lebih gaul di kampus. Secara kasat mata, saya sendiri tidak dapat melihat perubahan apa yang terjadi pada teman-teman saya setelah melewati perayaan pergantian tahun. Proses pencapaian terhadap resolusi yang dibayangkan sehari sebelumnya mungkin memang tidak dapat dilihat dan dirasakan dengan cepat. Selain karena saya memang orang yang tidak peka, saya juga tidak mempunyai keinginan untuk mengetahui dan memang tidak ingin tahu resolusi dari masing-masing mereka. Kondisi yang sama juga mungkin berlaku pada mereka.
Intinya, di malam pergantian tahun semua orang seakan memanjatkan doa secara serentak, berharap terkabulkannya resolusi yang telah dibuat. Tidak terkecuali saya, pada malam yang dingin dan sepi ini yang disertai pula dengan hujan deras. Namun bedanya, sementara orang lain sudah membayangkan resolusi mereka dari kemarin, saya masih memikirkan tentang resolusi apa yang ingin saya capai pada tahun ini. Sampai lagu Life is too short yang dibawakan oleh Scorpions pun selesai mengalun dari media player di laptop saya.
"....and you run
'cause life is too short
and you run
'cause life is too short...."
'cause life is too short
and you run
'cause life is too short...."
"Life is too short" -Scorpions-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar