Minggu, 12 Januari 2014

Tentang tayangan televisi dan intro lewat orkes dangdut.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-13]


Minggu pagi ini dibuka dengan hujan lebat yang nampaknya terpaksa tertunda tadi malam. Di dekat rumah saya, kemarin sore terdapat hajatan pernikahan yang berlangsung seharian penuh. Nampaknya pesta berjalan cukup meriah, hal ini cukup dapat saya amati dari alunan musik dangdut yang dimainkan selama semalam suntuk. Walaupun hujan sempat turun beberapa lama setelah maghrib, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para pencari hiburan rakyat yang mungkin datang dari berbagai pelosok rukun tetangga. Ditandai dengan alunan musik yang mengalun terus-menerus dan suara biduan yang hampir selalu sama di setiap hajatan. Entah mungkin karena kualitas sound system yang kurang mumpuni atau memang karena kualitas dari para biduan yang memang rata-rata sama, saya hampir tidak dapat menemukan perbedaan yang signifikan antara suara biduan yang satu dengan yang lainnya. Kalaupun ada yang berbeda, hanya dari track list yang dimainkan saja saya rasa. Bahkan kalau hajatan digelar dalam kurun waktu yang berdekatan antara hajatan satu dengan yang lain, bukan tidak mungkin kalau sebagian track list dimiliki oleh para orkes dangdut atau organ tunggal yang disewa para pengempu hajatan adalah sama.
Ya, sesuai dengan julukannya, yaitu hiburan rakyat. Bisa dipastikan kalau lagu atau musik yang dimainkan oleh mereka; para penghibur rakyat, merupakan lagu-lagu yang sedang nge-trend saat ini. Dalam artian trend yang saya maksudkan disini adalah lagu-lagu yang sering diputar oleh berbagai stasiun televisi, yangmana programnya kebanyakan menjadi program acara mendadak goyang atau mendadak joget. Setelah beberapa tahun belakangan ini, tayangan yang biasa saya tonton di televisi diinvasi oleh tayangan musik dengan penonton berselera 50.000 bahkan gratis demi bisa melihat bintang kesukaan mereka bernyanyi dengan mimik atau ekspresi mulut yang sering tidak sinkron dengan lagu yang mereka "bawakan". Sekarang muncul lagi tayangan yang hampir serupa, akan tetapi dengan kemasan yang berbeda. Saya kira manusia saja yang bisa latah, bahkan program televisi pun demikian. 
Diawali dengan kemunculan tayangan pada bulan puasa, yang biasa tayang secara live di jam-jam sahur. Kita akan mendapati sekumpulan orang dengan pakaian yang tidak biasa, bergoyang dengan gaya yang tidak biasa pula. Awalnya saya sempat berpikir tayangan seperti ini semacam angin segar bagi tayangan-tayangan lain yang biasa disiarkan pada jam yang sama. Dimana tayangan lain kebanyakan masih belum bisa move-on dari konsep acara mereka, yang notabene mengandalkan ejekan-ejekan gagal lucu dan kuis-kuis yang jawabannya diberitahukan sendiri oleh si pembawa kuis yang murah hati. Dan juga tayangan shitnetron bertema religi yang saya rasa semakin tidak sinkron antara judul dengan tayangan tiap episodenya. Bahkan sampai edisi-edisi berikut dan seterusnya. Lalu mindset saya berubah, sama seperti kebanyakan orang yang tadinya mungkin sependapat dengan saya, namun berubah haluan setelah merasa tayangan berisi goyangan yang saya bahas tadi menjadi menjemukan. Membosankan sepenuhnya.
Tayangan tersebut kemudian bertransformasi menjadi tayangan wajib muncul pada jam-jam istirahat kebanyakan dari kami. Pada jam-jam dimana para karyawan kantor yang ingin melepas penat dan pusingnya menghadapi kerjaan selama kurang lebih 8 jam sehari. Para mahasiswa yang kembali pulang ke kosannya atau base camp-nya masing-masing setelah gerimis sedikit demi sedikit mengganggu jadwal bergurau mereka satu sama lain. Para pengangguran yang merasa suntuk dengan media sosial sembari mempersiapkan bahan-bahan untuk interview keesokan harinya. Hampir tidak ada lagi tayangan berkualitas yang dapat disaksikan di layar televisi. Saya sering merasa kasihan kepada adik saya yang senantiasa memencet-mencet tombol remote, memindah-mindah channel demi mendapatkan tayangan yang sekiranya layak untuk dikonsumsi. Sayangnya, tayangan yang sekiranya bagus menurut saya, muncul pada waktu tengah malam. Itu pun frekuensinya tidak sebanyak dulu. Waktu dimana tayangan dengan tajuk layar emas dan emas-emasan lainnya berada pada masa kejayaannya.
Terus terang, saya tidak begitu mengerti dan paham bagaimana secara sistematis komisi penyiaran dan badan sensor di negeri ini bekerja dan meluluskan tayangan-tayangan di setiap kesempatan. Saya juga tidak mengerti apakah badan-badan ini bekerja untuk pemerintah atau bekerja untuk para pemegang saham stasiun televisi. Atau malah sebenarnya, badan-badan ini memang badan milik pemerintah yang terpaksa bekerja untuk pihak swasta yang mengucurkan sekian kecil persen keuntungan yang didapat, untuk disalurkan ke kantong amal pemerintah. Atau malah memang tanpa paksaan sama sekali. Entahlah. Tapi yang pasti, saya juga meyakini bahwa media begitu besar pengaruhnya saat ini. Apapun bentuk medianya. Serta teknologi yang turut pula menyertai perkembangannya. Seperti sebilah pedang bermata dua, pada salah satu sisi media dapat digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang baik dan positif. Sedangkan pada sisi yang lainnya, media dapat memberikan pengaruh atau efek yang buruk dan negatif. Saya lebih senang mengatakan kalau perspektif memegang peranan dalam hal ini. Manusia tercipta dengan berbagai macam dan karakteristik dan watak. Karakteristik serta watak yang dimiliki tersebut menghasilkan asumsi dan pemikiran serta tindakan yang beragam. Ya, mungkin saja manusia memang diciptakan, ada yang baik dan ada yang jahat. Ada kebaikan dan ada keburukan. Ada manusia yang baik dan ada pula manusia yang tidak baik (jahat). Akan tetapi, saya tidak akan membahas hal ini terlalu jauh lagi, karena akan melenceng dari postingan utama kali ini.
Ohh..andai saja saya mempunyai banyak uang, atau paling tidak saya selalu bisa membiayai sendiri perjalanan-perjalanan yang ingin saya lakukan sendiri, mungkin saya tidak akan terlalu memikirkan tayangan di dunia pertelevisian. Mungkin saya akan disibukkan nantinya dengan kegiatan saya mendokumentasikan beragam keindahan yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Lalu menulis pengalaman-pengalaman saya mengenai apa yang saya lihat dan rasakan di setiap perjalanan saya dan membagikannya secara luas, sehingga dapat menginspirasi banyak orang. Atau malah, saya akan dapat membuat stasiun televisi sendiri yangmana nantinya akan saya gunakan untuk memberikan inspirasi dalam berbagai hal kepada setiap orang yang menonton program-program yang tersaji disana. Bukan sebagai sarana untuk berkampanye dan mengumbar janji-janji perubahan demi masa depan negeri ini yang sedikit demi sedikit mengalami fase-fase kemunduran. Ya, kemunduran dalam segala hal. Yang ditandai dengan matinya kreatifitas serta ketiadaan tempat bagi ide-ide yang berkualitas yang sekiranya dapat membawa perubahan. Walaupun kecil sekalipun.


"Oh baby, baby, it's a wild world
 It's hard to get by just upon a smile
(yeah...) Oh baby, it's a wild world
I'll always remember you like a child girl.."


"Wild world" -Mr. BIG-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar