Jarak Sejengkal Jari
Wahai kau wanita,
tak lagi sempat kutatap lekat-lekat matamu
Pula binar pada wajahmu,
hanya dapat kurasa dalam untai-untaian kata
Hanya kata, dan bukan suara
Selalu saja,
kebisuan seolah menjelma menjadi jarak yang tak dapat terukur
Walau sejengkal jari pun,
kuletakkan diantara kedua lengan kita,
Semua tetap sama, tiada berbeda
SPSK and the ambition for the last cigarettes
Tentang rangkaian imaji dan imajinasi..
Sabtu, 29 November 2014
Tas Hitam
Tas Hitam
Tas hitam itu, warnanya kian memudar
Jahitan-jahitannya yang kokoh, sudah mulai terlepas
Sama seperti impian-impiannya pemiliknya
Satu-persatu dan tanpa ragu
Ia mulai usang, beriaskan debu jalanan
Namun terpakai tak sebagaimanamestinya
Tapi ia tak dapat berbuat banyak,
selain tetap mengemban tugas dari pemiliknya
Teringat kembali olehku, janjiku kala itu
Kelak kubuat ia selalu menyertaiku,
beserta apa yang menjadi mimpiku saat itu
Pun saat ini, masih pula aku bermimpi
Aku mungkin telah salah mengucap doa
Kata-kataku kini telah menjadi realita
Mimpi tetaplah mimpi, dan aku masih belum beranjak
Di tempat dimana dulu aku berpijak, aku tak lagi layak
Tas hitam itu, warnanya kian memudar
Jahitan-jahitannya yang kokoh, sudah mulai terlepas
Sama seperti impian-impiannya pemiliknya
Satu-persatu dan tanpa ragu
Ia mulai usang, beriaskan debu jalanan
Namun terpakai tak sebagaimanamestinya
Tapi ia tak dapat berbuat banyak,
selain tetap mengemban tugas dari pemiliknya
Teringat kembali olehku, janjiku kala itu
Kelak kubuat ia selalu menyertaiku,
beserta apa yang menjadi mimpiku saat itu
Pun saat ini, masih pula aku bermimpi
Aku mungkin telah salah mengucap doa
Kata-kataku kini telah menjadi realita
Mimpi tetaplah mimpi, dan aku masih belum beranjak
Di tempat dimana dulu aku berpijak, aku tak lagi layak
Malam itu di Kota Tua
Malam itu di Kota Tua
Perlahan petang datang,
dan malam pun menjelang
Kerlap-kerlip lampu yang menyala,
laksana riasan seorang perawan tua
Malam itu di kota tua,
tetap sama seperti biasanya
Perlahan aku melangkahkan kaki,
dan sejenak aku sesekali berhenti
Sudah, begitu saja
Dan tetap begitu saja sesudahnya
Berbatang-batang rokok kunyalakan,
dan berbatang-batang pula kuhabiskan
Tak pernah jelas apa yang kucari
Dan tak jelas pula apa yang kunanti
Aku hanya mengikuti naluri
Meresapi sepi di hati
Sepi..
Perlahan petang datang,
dan malam pun menjelang
Kerlap-kerlip lampu yang menyala,
laksana riasan seorang perawan tua
Malam itu di kota tua,
tetap sama seperti biasanya
Perlahan aku melangkahkan kaki,
dan sejenak aku sesekali berhenti
Sudah, begitu saja
Dan tetap begitu saja sesudahnya
Berbatang-batang rokok kunyalakan,
dan berbatang-batang pula kuhabiskan
Tak pernah jelas apa yang kucari
Dan tak jelas pula apa yang kunanti
Aku hanya mengikuti naluri
Meresapi sepi di hati
Sepi..
Sewindu
Sewindu
Barang sewindu kita tak berbicara,
tak pernah pula kita bertegur sapa
Halte itu masih berdiri disana,
tempat kita menunggu bersama
Urusan hati, siapa yang sangka?
Jikalau benci, takkan duduk kita bersama
Jikalau cinta, pun kita tidak saling suka
Mungkin, barang sewindu lagi kita tahu jawabannya
Barang sewindu kita tak berbicara,
tak pernah pula kita bertegur sapa
Halte itu masih berdiri disana,
tempat kita menunggu bersama
Urusan hati, siapa yang sangka?
Jikalau benci, takkan duduk kita bersama
Jikalau cinta, pun kita tidak saling suka
Mungkin, barang sewindu lagi kita tahu jawabannya
Gelap Tak Selamanya Malam
Gelap Tak Selamanya Malam
Gelap tak selalu gelapnya malam
Saat rindu ini meraja, semua terasa gelap
Akan tetapi, hujan tak selalu disertai mendung
Dan rindu tak selamanya merana
Selama ada kasih di dalam hati,
pula segala keindahan terus menjadi
Langganan:
Komentar (Atom)