Pagi,
akan selalu menjadi pagi,
walau tak lagi dapat ku rasakan dingin hawanya
Tetes-tetes embun,
daun-daun yang menghijau,
dan kabut tipis yang menghalau pandangan
Senantiasa menyambut setiap insan,
yang terbangun dari lelapnya peraduan
dan yang masih tetap lelap dalam buaian mimpi
Hei, tapi itu dulu bung!
Pagi-pagi kali ini,
tak lagi semenawan dulu,
turut pula tak seelok biasanya
Orang-orang itu memang bangsat!
Sebangsat-bangsatnya manusia
Mereka memperkosa kita,
Merenggut kebebasan kita,
untuk bernafas dengan layak
Sampah-sampah itu,
mereka bakar tanpa kenal waktu, tanpa kenal peduli
Dan asap-asapnya, berhambur-hamburan tersapu angin,
menjadikan kita seperti daging asap hidup
Dan kita meronta-ronta dalam balutan bau-bauan busuk
Aku bukan tidak adil
Karena aku masih setia menikmati aroma tembakau,
yang hilir mudik di dalam paru-paruku
Tapi asap ini, bukan hanya hendak membunuhku saja
Mereka seperti Hitler yang hendak membantai para yahudi!
Ahh, tapi sudahlah bung
Tidak ada gunanya lagi berkeluh kesah
Kita sebenarnya sudah lama mati, benar-benar mati,
semenjak kita kehilangan rasa sayang kita satu sama lain
Dan semenjak tidak ada lagi rasa peduli diantara kita
Kita semua, seperti mayat hidup
Kita memang manusia, tapi kita bukan pula manusia
Kita memang mayat, tapi kita bukan pula mayat
Serba salah memang, tapi ahh sudahlah
Karena tidak ada gunanya pula ku berkata
Boleh kupinjam koreknya, bung?
. . . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar