Sabtu, 11 Januari 2014

Menguak memori lama dan tentang selera musik.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-12]


"I'm the one who wants to be with you
Deep inside I hope you feel it too
Waited on a line of greens and blues
Just to be the next to be with you.."

"To be with you" -Mr. BIG-


Bersamaan dengan penggalan lirik atau tepatnya reff yang saya tulis diatas, saya sedang mendengarkan lagu-lagu lawas di media player laptop saya. Sudah beberapa minggu belakangan ini saya sibuk mencari-cari dan mengunduh lagu-lagu lama yang sekiranya membuat saya dejavu akan masa-masa yang pernah saya lewati ketika kecil dulu. Bisa dibilang kalau saya ini adalah orang yang telat mengenal musik. Bila dibandingkan dengan teman-teman saya di kampus, saya adalah orang yang paling minim pengetahuan musiknya dibandingkan mereka. Yang menjadi hal tersebut kontras dengan diri saya adalah mungkin karena saya berambut gondrong, suka berkemeja flanel dan memakai celana jeans yang bagian dengkulnya robek karena sering bergesekan dengan gazebo tempat saya biasa nongkrong di kampus. Balik lagi mengenai kedejavuan saya terhadap masa kecil saya. Rasa dejavu yang saya rasakan ini adalah ketika saya sedangg mendengarkan lagu yang sekiranya saya anggap bagus dan enak untuk didengarkan, saya merasa kalau saya pernah mendengarnya ketika saya masih kecil dulu. Entah dimana dan kapan tepatnya saya mendengarkan lagu-lagu tersebut, yang jelas kata-kata dan irama musik yang sedang saya dengar tersebut seperti familiar di telinga saya. Kalau saja telinga saya bisa berkata dan berbisik kepada saya, mungkin ia akan mengatakan saya bodoh karena saya hanya berpikir kalau sepertinya saya pernah, padahal saya memang pernah.
Hahaha.. :))
Satu hal mengenai musik ini, saya benar-benar menyayangkan kondisi yang terjadi disini. Hampir tidak ada lagi channel televisi yang menampilkan program-program musik yang menurut saya berkualitas. Kalaupun ada, umurnya tidak panjang (lama). Mungkin memang ada satu hal dan hal lainnya yang menyebabkan hal itu terjadi, yang rasanya malas untuk saya jabarkan disini. Kalaupun ingin saya jabarkan, mungkin saya tidak akan dapat menjabarkannya dengan panjang lebar dan sistematis, seperti layaknya kritikus musik. Saya hanya penikmat musik biasa dan saya pun sadar kalau pengetahuan saya tentang musik adalah minim. Saya hanya sekedar penikmat musik yang menikmati musik dan lagu yang menurut telinga saya bagus untuk didengarkan, tanpa paksaan dan hampir tanpa pengaruh dari apapun. Kalaupun ada pengaruh, saya hanya tidak sengaja mendengar apa yang sedang diputar oleh teman saya atau beberapa media (seperti televisi, radio) dan merasa bahwa apa yang saya dengar saat itu memang bagus adanya dan layak untuk didengarkan. Bukan seperti orang-orang itu. Orang yang selera musik beserta seperangkat alat pendengarannya bisa disewa dengan harga lima puluh ribu rupiah, dibayar tunai. Bahkan bukan selera dan alat pendengarannya saja yang bisa disewa, harga dirinya juga.
Jujur, saya jijik melihat sekumpulan orang (pria dan wanita dan setengah pria setengah wanita) bermake-up tebal dan dandanan maksimal bertabrak-tabrak ala Harajuku jadi-jadian. Mereka kadang duduk dan tertawa terbahak-bahak untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditertawakan, yang bahkan saya sendiri tidak mengerti dimana letak kelucuannya. Kadang pula berdiri, sembari bersorak-sorai menyerukan para bintang-bintang yang kebanyakan seperti produkan pabrik yang tidak lolos QC. Ironis memang. Tapi ini adalah kenyataan. Tepatnya sebuah kenyataan tentang sebuah kemunduran. Katakan saja kemunduran kalau kata kehancuran dirasa sangat menyakitkan bagi kita. Kata kemunduran bagi saya masih memiliki titik terang dibandingkan kehancuran. Kata kemunduran bagi saya, berarti masih memiliki harapan untuk dapat diperbaiki. Walaupun memang agak susah, tapi pasti ada jalan.
Tapi, ah sudahlah. Semakin saya berkata-kata nantinya, semakin banyak lagi saya mengeluarkan umpatan. Saya tidak ingin memperbanyak catatan dosa-dosa saya yang sedang dipegang oleh malaikat. Dan rasanya, tidak adil kalau saya hanya mengumbar-umbar kejelekan yang dimiliki orang lain. Saya pun demikian. Saya sering kesal ketika saya mendengar ada orang yang membicarakan kelemahan-kelemahan saya, walaupun saya angggap hal tersebut bukanlah hal yang "worth it" untuk dibicarakan. Rasanya, saya pun tidak mempunyai solusi untuk menanggulangi masalah kemunduran tersebut. Masalah selera, mungkin lebih baiknya saya akan berprinsip "Seleraku, ya seleraku. Seleramu, ya seleramu". Tenang saja, masih banyak cara untuk memenuhi hasrat akan pemenuhan selera. Dunia ini masih amat sangat luas bung :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar