Minggu, 02 November 2014

Bakar, dan buatlah asap. Dasar bangsat!

Pagi,
akan selalu menjadi pagi,
walau tak lagi dapat ku rasakan dingin hawanya

Tetes-tetes embun,
daun-daun yang menghijau,
dan kabut tipis yang menghalau pandangan

Senantiasa menyambut setiap insan,
yang terbangun dari lelapnya peraduan
dan yang masih tetap lelap dalam buaian mimpi


Hei, tapi itu dulu bung!


Pagi-pagi kali ini,
tak lagi semenawan dulu,
turut pula tak seelok biasanya

Orang-orang itu memang bangsat!
Sebangsat-bangsatnya manusia
Mereka memperkosa kita,
Merenggut kebebasan kita,
untuk bernafas dengan layak

Sampah-sampah itu,
mereka bakar tanpa kenal waktu, tanpa kenal peduli
Dan asap-asapnya, berhambur-hamburan tersapu angin,
menjadikan kita seperti daging asap hidup
Dan kita meronta-ronta dalam balutan bau-bauan busuk

Aku bukan tidak adil
Karena aku masih setia menikmati aroma tembakau,
yang hilir mudik di dalam paru-paruku
Tapi asap ini, bukan hanya hendak membunuhku saja
Mereka seperti Hitler yang hendak membantai para yahudi!

Ahh, tapi sudahlah bung
Tidak ada gunanya lagi berkeluh kesah
Kita sebenarnya sudah lama mati, benar-benar mati,
semenjak kita kehilangan rasa sayang kita satu sama lain
Dan semenjak tidak ada lagi rasa peduli diantara kita

Kita semua, seperti mayat hidup
Kita memang manusia, tapi kita bukan pula manusia
Kita memang mayat, tapi kita bukan pula mayat
Serba salah memang, tapi ahh sudahlah
Karena tidak ada gunanya pula ku berkata

Boleh kupinjam koreknya, bung?
. . . .

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 3]

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 3]


Ohh, ayah..
Suaramu mulai terasa lirih kudengar,
membuat hati ini, menjadi pilu dan haru
Demikian pula hela nafasmu,
semakin saja berat kurasa

Aku menangis ayah
Aku berjalan ke pojokan kamar,
lalu kurebahkan selimut diatas tubuhku
Dan aku menahan jerit,
seperti seekor tikus yang terjepit

Persetan!
Tak peduli dengan kejantananku
Aku memang seorang laki-laki,
dan aku adalah pria sejati
Tapi, aku masih punya perasaan

Ohh, ayah..

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 2]

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 2]


Dulu, memang tak banyak kata darimu,
kecuali nasihat dan larangan
Dan Ibu pun demikian halnya
Jadi bukan salahku dan jangan salahkan aku,
bila kini aku menggauli sepi dan hening
Akan abadi nampaknya, tetap begini adanya

Bukan ku tak ingin berubah,
aku pun selalu ingin berulah, tak ingin kalah
Aku ingin menjadi teman bagimu
Aku ingin menjadi musuh bagimu
Aku ingin menjadi seorang abdi bagimu

Dan rasanya,
aku ingin terus menjadi anak kecilmu
Anak kecilmu yang telah lama hilang,
termakan ambisi dan mungkin pula gengsi

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 1]

Ayah dan Anak Kecilnya yang Hilang [Part 1]

 
Ayah,
aku masih dengan jelas mengingatnya
Saat kau duduk dengan mengenakan sarungmu
Aku meraihnya,
duduk diatasnya,
memintamu menggoyang-goyangkannya
Hingga aku terlelap, seperti tidur diatas ayunan

Waktu itu mungkin,
hampir 20 tahun yang lalu
Saat aku belum mengenal banyak kata,
belum mengenal banyak dosa,
belum pula mengenal kecewa,
apalagi membayangkan masa depan

Keriput yang menghiasi wajahmu,
aku dapat melihatnya dengan jelas
Badanmu mungkin tidak setegap dulu
Bahkan sesekali,
kulihat pedih dalam bola matamu,
Dan aku masih saja diam, walau ku tak ingin

Sabtu, 25 Oktober 2014

Darah itu merah, jenderal! Dan Jakarta itu panas, bung!

Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung!


Baik, katakanlah saya orang yang seringkali mengeluh. Akan tetapi, saya masih mengganggap bahwa keluhan-keluhan saya selama ini masih dalam batas kewajaran dan termasuk sesuatu yang pantas untuk dilakukan. Walaupun, saya sering mendapati kata-kata motivasi yang menyebutkan bahwa mengeluh itu bukanlah sesuatu hal yang bagus atau baik untuk dilakukan. Persepsi saya, sebuah keluhan itu hukumnya adalah sah apabila didasari oleh sesuatu yang benar-benar dinilai sebagai sebuah kondisi yang tidak menguntungkan. Kecuali kalau kita mengeluh, tapi kita sendiri tidak memiliki alasan mengapa kita mengeluh. Contohnya saja, seperti yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Mungkin bukan cuma saya saja yang merasa kalau akhir-akhir ini cuaca atau hawa atau udara di jakarta sangat tidak bersahabat. Darah itu merah, Jenderal! Dan Jakarta itu panas Bung! (*bukan pasukan nasi bungkus lho ya). Bahkan, media informasi pun sempat mengabarkan bahwa suhu di Jakarta pada siang hari mencapai 39 derajat Celcius. Jempol!
Dan pastinya, bukan hanya saya saja yang sekiranya mengeluhkan kondisi cuaca yang sedemikian rupa ini. Tetapi keluhan belum selesai sampai disini saja. Di tengah panasnya udara dan di tengah panasnya kondisi perpolitikan di Indonesia, terutama di gedung DPR MPR dan selintingannya, ada saja kelakuan segelintir orang yang perbuatannya tidak dapat saya mengerti tujuannya. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang ini, yang seenaknya saja melakukan fogging dengan mem-BABI-buta di lingkungan rumah tempat saya menumpang tinggal dengan kedua orangtua saya, dengan membakar sampah-sampah karet dan sampah lainnya, yang pada akhirnya menyisakan ampas berupa asap-asap pekat dan berbau tengik. Kalau saja yang dibakar adalah daun-daun ganja kering, mungkin saya tidak mempunyai cukup waktu untuk mengeluh dan menulis postingan ini. Karena yang akan bisa saya lakukan hanya nyengir dan tertawa gak jelas sepanjang hari.
Pagi, siang, sore malam, sampai pagi lagi, terus tercium aroma sisa-sisa pembakaran sampah di lingkungan tempat saya tinggal. Sejujurnya, saya lebih ikhlas menghirup aroma dari asap rokok yang dihembuskan orang satu RT sekalipun. Dibandingkan saya harus menghirup aroma tengik atau apalah itu namanya. Lebih ikhlas lagi kalau saya menghirup sendiri asap rokok yang saya hisap sendiri, daripada "dipaksa" untuk menghirup sumber penyakit yang menurut saya lebih parah dari asap rokok berbau kemenyan sekalipun. Apalagi jika sampai seisi rumah yang "dipaksa" harus menghirupnya. Terlebih, pemaksaan adalah sama dengan pemerkosaan. (*Halah!). Namun berhubung saya beserta keluarga menjunjung tinggi rasa toleran yang tinggi dan tidak menyikapi segala sesuatu yang terjadi dengan emosi, kami hanya berharap kalau aktivitas bakar-bakaran laknat itu dengan cepat berakhir. Dan keadaan di lingkungan tempat saya tinggal kembali aman dan nyaman, seperti sedia kala, sama seperti sebelum Negara Api menyerang. Wkwkwkwk....

Salam Super!