Minggu, 02 November 2014

Untukmu, Sang Srikandi

Untukmu, Sang Srikandi


. . . .,
kau terlihat menawan,
terlihat perkasa sekalian
Flanel yang kau kenakan,
keril yang menempel di punggungmu,
serta slayer yang sesekali tersemat di lehermu

Ahh, sungguh..
Apapun yang ada padamu,
aku begitu menyukainya, sungguh
Kusukai pula poni rambutmu,
kala kau jadikan dirimu feminim seutuhnya

Setangguh-tangguhnya kau bertualang,
kupastikan kau mungkin dan akan terjatuh
Bukan tersandung batu,
atau pun kerikil tebing
Melainkan oleh hangatnya cinta

Akan tetapi,
jika kau belum merasakannya,
aku takkan ragu untuk memberinya
Hanya untukmu saja seorang,
wahai engkau sang Srikandi

Jemu

Jemu


Jemu,
aku terlanjur jenuh dengan kehidupan
Kehidupan yang penuh dengan fatamorgana

Topeng-topeng datang silih berganti,
baik rupa, baik pula warnanya
Sekalipun oase kulihat di padang pasir,
yang kumiliki hanya sebuah kekeliruan sahaja

Tidak seperti janji-janji manis belaka

Kepalsuan dalam persahabatan

Celaan berujar ibaan

Dan semua tabiat-tabiat kemunafikan

Sungguh, aku jemu

Kau dan Senyum Dua Gigi Kelinci

Kau dan Senyum Dua Gigi Kelinci


Selalu, lewat tanya aku berbicara
Kepadamu, wahai gadis pujaan

Dari ribuan orang yang menyanjungmu,
Aku, memang berbeda

Kulantunkan harapanku lewat doa,
agar selalu kau bahagia disana,
agar selalu kau tersenyum disana,
dan selalu kau dikelilingi oleh cinta

Maka perkenankanlah aku,
meski hanya memiliki senyummu
Senyum dua gigi kelinci,
waktu kita berbasa-basi dulu

(Masih) Tentang Sepi

(Masih) Tentang Sepi


Walau sepi disini,
namun ku masih belum ingin beranjak
Masih ingin ku tuliskan kata demi kata,
merangkai satu persatu harapan

Walau sepi disini,
takkan mudah bagiku untuk berpaling
Akan tetap ada jejak-jejak perasaanku,
yang pernah mengisi setiap relung di hati

Bakar, dan buatlah asap. Dasar bangsat!

Pagi,
akan selalu menjadi pagi,
walau tak lagi dapat ku rasakan dingin hawanya

Tetes-tetes embun,
daun-daun yang menghijau,
dan kabut tipis yang menghalau pandangan

Senantiasa menyambut setiap insan,
yang terbangun dari lelapnya peraduan
dan yang masih tetap lelap dalam buaian mimpi


Hei, tapi itu dulu bung!


Pagi-pagi kali ini,
tak lagi semenawan dulu,
turut pula tak seelok biasanya

Orang-orang itu memang bangsat!
Sebangsat-bangsatnya manusia
Mereka memperkosa kita,
Merenggut kebebasan kita,
untuk bernafas dengan layak

Sampah-sampah itu,
mereka bakar tanpa kenal waktu, tanpa kenal peduli
Dan asap-asapnya, berhambur-hamburan tersapu angin,
menjadikan kita seperti daging asap hidup
Dan kita meronta-ronta dalam balutan bau-bauan busuk

Aku bukan tidak adil
Karena aku masih setia menikmati aroma tembakau,
yang hilir mudik di dalam paru-paruku
Tapi asap ini, bukan hanya hendak membunuhku saja
Mereka seperti Hitler yang hendak membantai para yahudi!

Ahh, tapi sudahlah bung
Tidak ada gunanya lagi berkeluh kesah
Kita sebenarnya sudah lama mati, benar-benar mati,
semenjak kita kehilangan rasa sayang kita satu sama lain
Dan semenjak tidak ada lagi rasa peduli diantara kita

Kita semua, seperti mayat hidup
Kita memang manusia, tapi kita bukan pula manusia
Kita memang mayat, tapi kita bukan pula mayat
Serba salah memang, tapi ahh sudahlah
Karena tidak ada gunanya pula ku berkata

Boleh kupinjam koreknya, bung?
. . . .