Jumat, 03 Januari 2014

Sepenggal cerita tentang kehidupan.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-6]


"When i start hating someone,
i always try to neutralize my feeling by remembering the good things we ever did.
That's all the way i usually do.
It can be trusted or not.
Because, i also don't have a will to make everyone believe about the reality.
And i think that each of us has our own thoughts for appraising something,
based on our own natural perspectives :)"

===============

Sepenggal cerita..

Hidup dalam lingkungan yang universal bagi saya merupakan garis tangan kita sebagai manusia yang dituntut untuk memiliki jiwa dan kepekaan sosial yang tinggi. Kita dituntut untuk dapat melakukan adaptasi yang baik dan pretensi yang cenderung mendekati kesempurnan. Dan hal tersebut bukanlah perkara yang dapat dengan mudah dilakukan. Menjadi diri sendiri di tengah-tengah lingkungan sosial yang majemuk nampaknya bukanlah pilihan yang bijak untuk dilakukan. Banyak norma-norma dan batasan-batasan pada kondisi ini yang menuntut kita mengendalikan ego kita,  dalam berpikir, bertutur dan bersikap.
Kadang saya membayangkan posisi saya sebagai diri saya sendiri ketika menghadapi suatu kondisi yang sekiranya menurut saya adalah palsu.

Semu.

Munafik.

Sementara saya sendiri, sama.

Seketika, saya ingin bangun dari lantai sembari berteriak keras-keras.


Saya ingin berteriak "Bangsaaaaaattttttt....!"

Saya ingin pula berteriak "Brengseeeeeeekkkkkk....!"

Saya ingin berteriak "Dasar jalang!"

Saya ingin berteriak "Anjing!"


Tetapi tidak..

Tidak, sekali lagi..

===============

Saya bukanlah binatang. Saya bukanlah anjing yang kandangnya diguncang-guncangkan atau dilempari batu oleh sekumpulan bocah ingusan yang bahkan kencing saja belum lurus.

Saya bukanlah wanita penghibur yang ditinggal kabur oleh pelanggannya dalam keadaan setengah telanjang, menutupi payudara dan kemaluannya dengan handuk hotel.
"Pelayanannya kurang", kata si pelanggan.
"Bayarannya kurang", kata si jalang.

Saya bukanlah remaja tidak tahu diri, yang lari dari rumah sembari menggebrak pintu kamar karena tidak jadi dibelikan telepon genggam model terbaru oleh orangtuanya.
Sementara teman-teman sebaya memamer-mamerkan telepon genggam baru mereka di depan remaja-remaja perempuan yang sedang mereka taksir.

Saya bukanlah seorang laki-laki dewasa yang baru mengetahui bahwa pacarnya pergi menikah dengan laki-laki bangsat yang sering mencumbui pacarnya dengan ke-masakini-an dan ke-masadepan-an yang realistis.
"Maafkan aku sayang, tapi harta orangtuanya lebih menjanjikan daripada janji-janji dan juga mimpi-mimpimu", kata si perempuan.

===============

Untungnya, batangan-batangan tembakau bercengkeh masih dapat menyelamatkan "kegilaan" saya. Saya menyematkan batangan demi batangan rokok saya ke dalam mulut lalu memainkannya dengan menggunakan jari jempol, telunjuk dan jari tengah saya.
Bagi saya, saya bebas untuk mendengar dan saya bebas untuk berhenti mendengar semau saya.
Terutama untuk hal-hal yang anggap omong kosong.

Kamis, 02 Januari 2014

Sebuah keputusan dan beberapa pertanyaan.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-5]


About questions..

"Ehm, regarding to myself, i was always asking to myself about any kind of questions, important or not.
And i also tried finding the good answers as i usually tried finding something i had lost, accidentally or not.
But, the hardest part was then i'd make the anothers including its different point of views though i exactly knew the answers.

And now, it always seems that i should convince myself about the truth, the reality even the possibility.

Ohh no, pardon me.
I mean, it should've been that i'm doing the thing what i've been doing from a long, long ago.

What's wrong?
No, nothing's wrong.

We all know that our life is our biggest mystery, don't we?"

==============

Di satu sisi, saya selalu merasa bahwa saya selalu berada dalam situasi dan waktu yang tidak tepat.

Di satu sisi lainnya, saya juga merasa bahwa apa yang saya putuskan dan lakukan bukanlah merupakan sesuatu yang tepat.

Agak sulit menggambarkannya dengan kata-kata, tapi mungkin bukan hanya saya yang memiliki perasaan seperti itu.


Gamang.

Dihantui kecemasan yang membabi-buta.

Rasa kecewa terhadap diri sendiri atas apa yang tidak dilakukan dan apa yang telah dilakukan.

Penyesalan yang terjadi berulang-ulang.


Lalu, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang-ulang.

Dan berulang-ulang muncul pertanyaan yang sama.

Tentang waktu. Sebuah analogi.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-4]
 

"I close my eyes, only for a moment, and the moment's gone
All my dreams, pass before my eyes, a curiosity
Dust in the wind, all they are is dust in the wind"

"Dust in The Wind" -KANSAS-


Sebuah analogi.

Hari Kamis, 02-01-2014; 00.17am

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat.
Rasanya baru kemarin maghrib saya dan teman-teman satu RT yang sebaya, selesai bermain sepak bola di tanah lapang yang tadinya merupakan rawa-rawa dan semak belukar bertahta duri-duri berwarna hijau menua. Sehingga hampir selalu dapat dipastikan bahwa selepas bermain kami mewajibkan diri kami masing-masing untuk mencabuti duri-duri yang sekiranya mencium telapak kaki kami yang telanjang.
Lalu beberapa waktu sesudahnya, di siang hari yang begitu eksotik teriknya, saya berlari-lari dengan membawa galah bambu yang saya gunakan untuk mengambil layang-layang yang menyangkut di atas pohon. Entah milik siapa layangan-layangan tersebut, yang pasti pada saat itu hukum rimba berlaku dan berbunyi seperti ini:
"Barang siapa yang menemukan layangan dengan tali yang telah putus, maka layangan itu akan menjadi jodohnya kelak".
Sekilas bunyinya seperti sayembara dari sebuah kerajaan antah berantah. Dan layangan tersebut diibaratkan sebagai putri raja yang hilang atau malah tertukar dengan anak seorang pembantu raja yang telah kabur entah kemana.
Sesekali teman saya mengajak saya memancing. Memancing di rawa-rawa yang masih meninggalkan bekas-bekas jaman keemasannya dan sempat menjadi primadona di wilayah tempat tinggal kami. Layaknya pemancing profesional, saya dan teman-teman saya pun membeli peralatan yang sekiranya bisa menghiasi joran pancing kami yang terbuat dari serutan bambu tua berwarna coklat tua. Walau tidak jarang, kami hanya bisa membawa pulang plastik kiloan berair yang terisi oleh anakan-anakan ikan, mulai dari sepat, gabus dan betok.

Yaa, masa-masa itu pernah saya lewati apalagi saya tumbuh dan besar di tengah-tengah pemukiman yang terbilang padat. Pemukiman yang masih dihiasi dengan pemandangan berupa hamparan semak-semak atau rawa dan kebun-kebun kecil nan lebat dihinggapi oleh tanaman-tanaman parasit. Sekarang, pemandangan tersebut hampir tidak dapat saya temukan lagi.
Hampir tidak dapat saya lihat bocah-bocah ingusan dan remaja korengan berlari-lari mengejar layangan. Hampir tidak dapat saya lihat tim kesebelasan sepak bola kampung yang berebut bola bliter yang kulitnya sudah banyak termakan tanah dan bebatuan kerikil.
Hampir tidak dapat saya lihat orang yang menenggelamkan setengah badannya ke rawa-rawa untuk mengamankan benang pancingnya yang digigit biang ikan yang kabur dan masuk ke dalam rawa-rawa tersebut.

"Waktu cepat sekali berjalan".
Sebuah kata yang seringkali diucapkan mengenai waktu.
Kata yang selalu bisa membuat saya menghela nafas dan menghening untuk beberapa saat ketika saya bergumam akannya. Semua momen-momen terbaik yang pernah terjadi dan terlewati dalam hidup, memang tidak akan pernah terulang kembali. Kalaupun bisa dipaksakan, tidak akan sama. Hampir tidak ada pengecualian.

"Dan ketika kita menyia-nyiakan waktu kita, sesungguhnya kita telah menumpuk bibit-bibit penyesalan dalam hidup kita"

Rabu, 01 Januari 2014

Tentang inspirasi bahan One day, one post (or more)

 One day, one post (or more) - [Postingan ke-3]


".... Always somewhere,
miss you where i've been
I'll be back,
to love you again...."

"Always somewhere" -Scorpions-


Ehm..
Dengan melakukan blogwalking ternyata dapat memberikan inspirasi tersendiri dalam upaya menciptakan tulisan (halah bahasanya) :D
Ya, inspirasi dapat datang dan pergi begitu saja, tanpa bisa ditebak kapan dan dimana kita bisa mendapatkannya. Seringkali saya duduk menikmati malam di pelataran atau teras depan kontrakan sambil menghisap beberapa batang rokok, dengan harapan mendapatkan wangsit :p atau sekedar menunggu datangnya inspirasi tentang berbagai macam hal. Akan tetapi, terkadang usaha saya tersebut nihil, tanpa hasil. Kecuali sampah berupa puntungan dan abu rokok yang berserakan di lantai teras.
Sebenarnya, saya hanya melakukan self-blogwalking, dimana saya menengok blog saya sendiri dan sekilas membaca postingan-postingan yang saya buat. Hahaha..

Begitu saya ingat kalau saya mempunyai tantangan: One day, one post (or more), terlintas di pikiran saya untuk menengok kembali folder-folder hasil jepretan yang terdapat di laptop maupun harddisk eksternal saya. Saya kepikiran untuk membuat semacam field report atau ulasan singkat mengenai koleksi foto-foto jepretan saya, berdasarkan kategori foto dan waktu pengambilan fotonya.
Kebetulan, saya mempunyai daya ingat yang bisa dibilang lemah dan dapat dengan mudahnya melupakan sesuatu. Mulai dari sesuatu yang tidak penting sekalipun sampai sesuatu yang benar-benar penting untuk diingat. Berangkat dari sini, mungkin saya akan mencoba untuk melatih memori otak saya dengan mengingat-ingat kembali apa telah saya lakukan dengan kamera saya beberapa waktu yang lalu (mungkin sampai saat-saat sekarang juga). Kemudian mengkritisi ingatan saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya berhubungan dengan materi apa yang ingin saya angkat dan sampaikan di blog ini.

Dengan demikian, akan ada bahan materi atau cerita yang dapat saya bahas untuk menjawab tantangan One day, one post (or more). Apalagi kalau nantinya saya benar-benar menemui kebuntuan karena inspirasi untuk menulis tidak kunjung datang. Hehehe.. (*tersenyum licik)
Seru kali yaa, kalau wacana ini dapat saya jadikan sebagai satu resolusi di tahun 2014 ini, sebagai langkah kecil untuk memulai suatu perubahan. Seperti yang dikatakan oleh banyak orang bijak di luar sana, sebuah langkah kecil merupakan awal untuk menuju sebuah perubahan.

"Ketika kita beranggapan bahwa melakukan sesuatu yang kecil merupakan hal yang tidak penting, maka sesungguhnya kita telah menyesatkan pikiran kita sendiri dengan membiarkan beberapa tindakan kreatif kita hilang begitu saja.
Dan dengan sendirinya, kita akan banyak terhenti untuk "HANYA" memikirkan sesuatu yang besar yang akan dapat kita lakukan. Sementara waktu kita akan cepat habis untuk berdiam diri di satu titik."
(oleh: Sang Putu Sanat Kumara)

Happy New Yeahh 2014 !!!

One day, one post (or more) - [Postingan ke-2]

 
"All of us every single year, we're different person.
I don't think we're the same person all our lives."
-Steven Spielberg-



Happy New Yeahh 2014 !!!
Tengah malam ini, hampir semua postingan kata entah di status facebook atau kicauan di twitter mengucapkan hal yang sama. "Selamat Tahun Baru 2014", dengan gaya penulisan dan kalimat yang beragam. Ya, lewat tengah malam tadi, tepatnya pada 01 Januari 2014 pukul 00.01am telah terjadi lagi peristiwa pergantian tahun. Peristiwa pergantian tahun ini memang telah mentradisi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia dan dirayakan oleh jutaan atau bahkan miliaran manusia di muka bumi ini. Di wilayah Indonesia sendiri (terutama Jakarta), perayaan tahun baru dipusatkan di beberapa tempat rekreasi dan tempat yang merupakan ikon dari kota Jakarta. Rangkaian kegiatannya hampir sama, dimana terdapat panggung-panggung pementasan acara kesenian yang meliputi musik, tari-tarian sampai pentas wayang. Tidak lupa, perayaan tahun baru tersebut dimeriahkan pula oleh letusan-letusan kembang api dengan beragam corak letusan dan warnanya. Lautan manusia pun terlihat memadati spot-spot atau lokasi-lokasi yang merupakan pusat dimana acara perayaan tahun baru diadakan.
Selama 25 tahun saya menghirup polusi di Jakarta, belum pernah saya merayakan tahun baru seperti yang dilakukan kebanyakan orang tersebut. Beberapa kali teman saya mengajak saya untuk berkeliling-keliling di pusat kota dan berkali-kali pula saya tolak dengan halus. Dengan alasan kalau tidak akan ada kegiatan berarti yang bisa dilakukan di tengah keramaian yang menjadi-jadi dan penuh sesak, yang bahkan untuk berjalan saja sulit untuk dilakukan. Nyatanya, pada perayaan pergantian tahun kemarin terdapat berita yang menyatakan kematian seorang pemuda dikarenakan penyakit asmanya yang kambuh karena kecapaian dan kurang mendapat oksigen ketika berada ditengah2 kerumunan. Hal ini seakan kontras dengan kemeriahan yang digembar-gemborkan oleh berbagai media mengenai kemeriahan perayaan tahun baru. Sementara di sisi lain terdapat kejadian yang tidak diharapkan dan tidak terjadi di momen seperti itu.

Saya sendiri pada dasarnya adalah orang yang tidak terlalu suka dengan keramaian, terlebih keramaian macam tersebut. Sehingga hampir tidak ada alasan bagi saya untuk mengikuti kegiatan yang dilakukan sebagian besar orang di malam pergantian tahun. Saya lebih memilih untuk tinggal di rumah dan menghabiskan malam pergantian tahun dengan menonton televisi, menjelajahi dunia maya dan bercengkrama dengan keluarga atau teman-teman. Seperti pada malam perayaan pergantian tahun 2 tahun yang lalu. Saya berkumpul dengan teman-teman kuliah di rumah kontrakan yang memang kami jadikan basecamp untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Di rumah tersebut saya tinggal berlima dengan teman saya yang lainnya. Seingat saya, kurang lebih ada 10 orang pada saat itu. Kami menyongsong malam pergantian tahun dengan membeli bahan makanan berupa ikan segar dan jagung mentah untuk dibakar dan dimakan bersama pada malam itu. Tidak lupa acara minum-minum bersama dengan beberapa botol Fanta dan Coca-Cola :p. Bukan dengan minuman sejenis anggur atau beer dengan kadar alkohol yang menjadi-jadi. Karena kami hanya sekumpulan pemuda dan pemudi baik yang merayakan pergantian tahun di rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempat peribadahan umat Muslim (no SARA).

Selesainya acara makan, minum dan merokok bersama, kami melanjutkan aktivitas kami masing-masing. Ada yang menghabiskan malam dengan pulang ke rumah dan tidur, ada yang menonton televisi ataupun memutar simpanan film untuk ditonton bersama sampai tertidur pulas. Keesokan harinya, rutinitas tetap sama seperti rutinitas di tahun sebelumnya. Kalaupun ada yang berubah, hanya pakaian yang kami kenakan pada hari itu dan menu makanan yang kami makan di kantin kampus. Selebihnya paling bungkusan rokok dengan merek yang berbeda dengan tadi malam, biar kelihatan lebih gaul di kampus. Secara kasat mata, saya sendiri tidak dapat melihat perubahan apa yang terjadi pada teman-teman saya setelah melewati perayaan pergantian tahun. Proses pencapaian terhadap resolusi yang dibayangkan sehari sebelumnya mungkin memang tidak dapat dilihat dan dirasakan dengan cepat. Selain karena saya memang orang yang tidak peka, saya juga  tidak mempunyai keinginan untuk mengetahui dan memang tidak ingin tahu resolusi dari masing-masing mereka. Kondisi yang sama juga mungkin berlaku pada mereka.

Intinya, di malam pergantian tahun semua orang seakan memanjatkan doa secara serentak, berharap terkabulkannya resolusi yang telah dibuat. Tidak terkecuali saya, pada malam yang dingin dan sepi ini yang disertai pula dengan hujan deras. Namun bedanya, sementara orang lain sudah membayangkan resolusi mereka dari kemarin, saya masih memikirkan tentang resolusi apa yang ingin saya capai pada tahun ini. Sampai lagu Life is too short yang dibawakan oleh Scorpions pun selesai mengalun dari media player di laptop saya.


"....and you run
'cause life is too short
and you run
'cause life is too short...."

"Life is too short" -Scorpions-