Sabtu, 11 Januari 2014

Kemangkiran dari tantangan. Tentang postingan ke-11

One day, one post (or more) - [Postingan ke-11]


Oke, nampaknya saya sadar kalau beberapa hari ini saya telah mangkir dari tantangan One day, one post (or more) yang saya buat sendiri.
Seperti anak baru gede yang kemarin sedang asyik dengan mainan barunya untuk beberapa hari, lalu kemudian merasa bosan dan jenuh.
Saya sendiri sebenarnya bukan merasa bosan, apalagi jenuh. Saya hanya sering merasa lupa terhadap satu atau beberapa hal lainnya dalam keseharian saya, baik penting ataupun tidak penting sekalipun. Selain itu, ditambah pula oleh pikiran bahwa saya sedang tidak mempunyai ide atau hal-hal menarik yang dapat saya tulis di blog ini. Padahal saya pernah menulis ini sebelumnya dan saya rasa saya masih punya memiliki beberapa bahan setengah matang untuk kemudian disajikan dalam bentuk tulisan di blog ini.
Akan tetapi kalau boleh jujur, saya memang sedang merasakan bosan yang teramat sangat. Dan saya pikir, kebosanan merupakan rasa yang masih manusiawi yang dimiliki oleh seorang manusia. Sialnya, saya masih belum menemukan cara bagaimana mengatasi rasa bosan tersebut, sehingga saya dapat melupakan sejenak bahwa saya sedang berada dalam titik jenuh atau kebosanan yang teramat sangat tadi.


Saya serasa ingin pergi ke sebuah atau beberapa tempat yang sangat jauh, yang sekiranya dapat membuat saya melupakan kebosanan yang bakal menjadi-jadi kalau dirasakan.

Saya ingin pergi menuju ke puncak gunung, menikmati dinginnya malam dengan memandangi bintang-bintang.

Saya ingin pergi ke pantai, menikmati angin yang berhembus sambil bernyanyi dan memetik gitar.

Saya ingin pergi ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan, kebaikan, ketulusan dan kemurahan hati dari orang-orang di sekitar saya.


Tapi, rasanya tidak semua yang saya inginkan akan dapat saya wujudkan.
Saya pesimis?
Sedikit.
Tidak ada manusia yang sempurna bukan di dunia ini?..
Orang baik sekalipun ada yang membenci.
Orang jahat sekalipun masih memiliki perasan cinta dan sayang, walaupun kepada dirinya sendiri.
Yang mengerti saya adalah diri saya sendiri dan saya berkata demikian bukan tanpa alasan.
Karena, selalu ada alasan bukan untuk segala sesuatu yang terjadi di dunia ini? :)

Senin, 06 Januari 2014

Tentang diri saya dan imajinasi.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-10]


Tentang imajinasi..

Hari Senin.
Hari dimana orang-orang kembali bertemu dengan keadaan yang hectic dan serba terburu-buru. Saya bisa bilang demikian, karena pagi ini saya berlaku sebagai saksi mata sekaligus pelakunya. Hahaha..
Semua ingin dapat bergerak cepat.
Semua ingin menjadi yang terdepan.
Semua ingin penguasa jalan.
Hal yang sangat amat lumrah ditemui di kala Senin pagi di jalanan Ibukota.

Kali ini, saya ingin membuat tulisan singkat tentang imajinasi. Katakanlah pula mimpi, impian dan segala hal yang berhubungan akannya. Keinginan ini muncul ketika saya berjuang pasif sendirian melawan sambaran kencang angin, yang berhembus dari dua asal dan sisi yang berbeda. Tiba-tiba saja saya berimajinasi. Seketika saya membayangkan diri saya menjadi seorang pemain gitar yang handal, tanpa cela. Tentu ini tidak ada hubungannya dengan angin bahkan perjuangan saya melawan angin tersebut. Namanya saja imajinasi, bisa secara sadar hadir, bisa juga tidak. Yang jelas, saya masih tetap setia duduk di depan laptop saya sambil mendengarkan playlist lagu di laptop saya tersebut.
Saya membayangkan bahwa ketika saya menjadi seorang pemain gitar yang piawai memainkan gitar, saya hampir tidak akan berada pada momen dimana kesepian menjadi momok. Walaupun saya sedang berada di tempat yang jauh sekalipun dan tanpa ada satu orang pun yang saya kenal saat berpapasan. Saya membayangkan bahwa saya akan selalu merasa damai dan bahagia ketika jari-jari jemari saya memetik senar demi senar. Dan saya tetap akan menikmati irama nada, bahkan untuk irama-irama bernada pesimis sekalipun. Lalu saya berjalan menyusuri lika-liku perjalanan hidup saya yang telah digariskan sebelumnya, dengan selalu menggendong gitar dipunggung saya. Saya ingin berjalan tanpa keraguan-raguan, ketakutan akan menghadapi masa depan.

Tanpa peduli sedikitpun kalau orang-orang di sekitar saya telah banyak yang menjadi buas. Rakus dan saling memakan antar sesamanya.

Tanpa peduli bagaimana saya harus memperlakukan orang-orang di sekitar saya dan apa yang akan mereka perlakukan kepada saya sebaliknya.

Tanpa peduli berapa lama lagi saya hidup di alam semesta ini.

Tanpa memiliki kekhawatiran tentang hal-hal yang tidak dapat saya perbuat.
Semua itu karena saya begitu mencintai diri saya. Mencintai apa yang dianugrahkan-Nya kepada saya. Dan saya akan merasa bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bahkan kiamat sekalipun.
Terkesan berlebihan memang, namun imajinasi tidak memiliki batas. Bebas. Tidak terikat.
Sekali lagi, tanpa batas.

Minggu, 05 Januari 2014

Buku fotografi dan harapan.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-9]


"If you only read the books that everyone else is reading,
you can only think what everyone else is thinking"
-Haruki Murakami-


Hari minggu kemarin, tepatnya pada malam hari sekitar pukul 19.00 saya pergi ke sebuah toko buku besar yang berada tidak jauh dari tempat tinggal saya. Sebenarnya, sudah dari beberapa hari yang lalu saya mempunyai rencana untuk membeli beberapa buah buku. Dengan tujuan untuk mengisi sebagian aktivitas liburan saya dengan membaca. Akan tetapi, lagi-lagi rasa mager (malas gerak) berhasil membujuk saya untuk berdiam diri di rumah. Duduk di depan laptop dan mendengarkan lagu-lagu kegemaran saya, sambil mengecek apakah masih ada file foto yang masih bisa saya edit.
Akhirnya kemarin malam, saya memutuskan untuk pergi dan berhasil membawa pulang dua buah buku tentang fotografi. Awalnya saya sempat ragu untuk membeli buku-buku tersebut. Selain karena harganya yang lumayan mahal, saya takut nantinya buku-buku tersebut hanya menjadi hiasan bertumpuk di meja belajar saya. Toh, kalau mau di internet saya bisa menemukan banyak bahan bacaan dan pastinya banyak juga buku-buku atau majalah-majalah yang bisa diunduh secara gratis (mental orang Indonesia :muntah).
Akan tetapi setelah membolak-balik halaman demi halaman dari kedua buku tersebut, saya meyakinkan diri saya sendiri untuk membeli kedua buku tersebut. Tentunya sambil berharap bahwa saya menemukan kembali semangat baca saya, terlebih kedua buku tersebut berhubungan dengan dunia yang saya sukai. Fotografi.
Then, here they are!




Ada sedikit cerita menarik ketika saya membeli kedua buku tersebut. Hal ini terjadi ketika saya sedang melakukan pembayaran di kasir. Kebetulan antrian sedang tidak ramai dan saya langsung menaruh kedua buku tersebut di meja kasir. Kasir wanita yang sedang melakukan scanning barcode bertanya kepada saya "Wow, buku ini harganya 150k mas?" dan saya mengiyakan pertanyaannya. Lalu kasir wanita yang usianya sekitar 40an itu bilang kepada saya bahwa beliau mempunyai buku yang sama seperti yang saya beli. Kemudian beliau melanjutkan cerita singkatnya, tanpa saya interupsi dulu dengan pertanyaan yang mungkin bisa saya lontarkan saat itu juga.
"Saya kemarin baru saja selesai pelatihan dan di pelatihan itu saya diberi buku ini juga. Tapi saya gak tau kalau harga bukunya semahal ini. Hahaha.. (seraya tertawa kecil)". Setelah itu baru saya bertanya kepada beliau tentang pelatihan yang dimaksudnya. Ternyata, beliau juga sedang menekuni hobi fotografi dan pelatihan yang dikutinya bukan hanya pelatihan fotografi semata. Beliau bilang bahwa di pelatihan tersebut, diajari juga tentang bagaimana kiat-kiat memulai dan menjalani bisnis di bidang fotografi.
"Wow, menarik banget ya bu kayaknya pelatihannya", kata saya. Sekaligus sebagai kata penutup dari perbincangan singkat kami di meja kasir malam itu. Dan beliau pun turut mengiyakan. Di sebelah saya juga sudah berdiri pengunjung yang juga akan membayar buku yang dibelinya. Tapi sebelum saya pamit keluar dari toko, beliau berpesan kepada saya "Semoga sukses ya mas dengan buku-bukunya! :) ", sambil melempar senyum ke arah saya. Saya pun mengiyakan dan membalas ucapannya "Sukses juga ya bu! Terima kasih banyak :) ".

Sabtu, 04 Januari 2014

Cahaya bulan, itulah senyummu bagiku.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-8]


Dan cahaya bulan pun akan tetap indah meski kadang terselimuti oleh awan hitam.

Seperti senyummu yang tak pernah terlihat pudar dan menyemu.

Meski apa yang kau rasakan tak seindah senyummu.

Jumat, 03 Januari 2014

Kecelakaan di perbatasan kereta Tanjung Barat.

One day, one post (or more) - [Postingan ke-7]



(Rabu, 14 Agustus 2013)
. . . .

Di sore itu, saya sedang mengendarai motor saya dalam perjalanan pulang dari depok menuju ke rumah. Seperti biasanya, rute jalan yang saya lalui adalah rute jalan yang nantinya akan melewati sebuah perlintasan kereta listrik Commuter Line (KCL). Akan tetapi di sore itu, saya bukan habis mengikuti kuliah di kampus melainkan membeli flashdisk pesanan adik saya di daerah jalan raya Margonda, Depok. Setelah sebelumnya saya pergi hunting foto ke daerah Gambir, tepatnya ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Entah kenapa, saya kepikiran untuk membeli flashdisk tersebut disana. Padahal, kalau saya mau, saya bisa melanjutkan perjalanan saya setelah hunting foto untuk menuju ke Mangga Dua. Dan apabila dibandingkan antara jarak keduanya, seharusnya pergi ke Mangga Dua menjadi solusi yang ideal untuk saya. Apalagi setelah sebelumnya saya bergelut dengan cuaca panas dan terik ditambah pula dengkul yang lecet akibat kelamaan duduk setengah berjongkok, mencium lantai dan aspal panas.

Catatan:
FYI, rute yang bisa saya gunakan untuk pulang ada dua. Rute pertama adalah rute Kampus UI-Tanjung Barat-Pasar Minggu-Cililitan-Rumah dan rute Kampus UI-Tanjung Barat-Pasar Rebo-Garuda-Rumah.
Ya, mungkin saja Yang diatas sudah punya rencana lain (halah bahasanya). Akhirnya saya melajukan motor saya menuju Depok dan pulang dengan membawa sebuah flashdisk berkapasitas 8GB. Awalnya, perjalanan berjalan lancar dan normal. Saya hanya melewati jalanan yang biasanya memang cukup lancar merayap, terlebih saya pulang disaat jam pulang kantor. Keadaan berubah setelah saya akan melewati jalan raya Tanjung Barat, yang terdapat palang perlintasan kereta. Kondisi macet total alias tidak dapat bergerak sama sekali. Sempat terpikir oleh saya untuk melewati rute Pasar Minggu, akan tetapi saya akhirnya lebih memilih menunggu ditengah-tengah kemacetan setelah tahu ada sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi di dekat palang perlintasan kereta Tanjung Barat tersebut. Kecelakaan yang membuat hampir semua pengendara motor turun dari motornya dan mengeluarkan handphonenya dari saku celana masing-masing.

Sebuah mobil berukuran sedang dengan kapasitas maksimal 8 orang, yang mengangkut pekerja media berita online, tertabrak kereta hingga terbalik. Memang saya tidak melihat secara langsung kronologis kejadiannya. Tetapi dari apa yang saya lihat setelah kecelakaan terjadi, saya mempunyai kesimpulan kalau mobil tersebut memang tepat tertabrak oleh bagian depan kereta. Mengingat kondisi mobil yang cukup parah, dan juga para penumpangnya yang bersimbah darah. Saat berada di tempat kejadian, saya melihat sudah ada polisi dan petugas lainnya yang sedang berusaha mengevakuasi korban dan melakukan peninjauan, serta meminta keterangan dari beberapa pengendara yang mungkin merupakan saksi mata kejadian.
Menurut beberapa orang pengendara yang telah ada di lokasi kejadian, mobil tersebut mencoba menerobos perlintasan kereta. Padahal yang saya ketahui, palang perlintasan disana masih berfungsi dengan baik dan speaker yang membunyikan tanda peringatan datangnya kereta juga masih berfungsi. Sayangnya, saya tidak mengorek keterangan lebih banyak lagi mengenai kronologis kecelakaan tersebut. Karena pikiran saya langsung tertuju pada kamera yang saya bawa dan apa yang dapat saya abadikan saat itu dengan menggunakan kamera saya. Ya, sebagai seorang yang memiliki naluri jurnalis (dadakan) dan kebetulan pula sedang membawa kamera, saya pastinya berniat untuk mengambil foto dari lokasi kejadian.

Sempat ada perasaan ragu, antara turun dari motor atau mencoba mengambil beberapa foto dengan tetap duduk diatas motor saya. Keraguan itu muncul karena saya tidak menemukan tempat yang sekiranya layak untuk memarkirkan sepeda motor saya. Kecuali menepikan kesayangan berwarna biru saya itu di dekat tiang pondasi fly over yang berada tepat di sisi luar perlintasan kereta. Dan untungnya ada seorang mas-mas yang bisa saya mintai tolong untuk dititipkan motor, daripada saya memarkirkan motor saya di belakang palang perlintasan. Bukan tidak mungkin motor saya nantinya akan menghalangi pengendara lain yang akan melanjutkan perjalanannya.
Bak tidak mau kalah dengan jurnalis-jurnalis dadakan lainnya, di bawah ini adalah foto yang berhasil saya ambil dari sisa-sisa tragedi kecelakaan di perlintasan kereta Tanjung Barat tersebut.

1. Seorang ibu menunjuk ke arah belakang saya, dengan maksud memberitahu saya bahwa korban sedang akan diangkut dengan menggunakan ambulans. Sementara posisi saya saat itu sedang membidik kamera ke arah depan, mencoba mengambil gambar suasana di dekat lokasi kejadian.

2. Setelah menyadari maksud dari ibu tadi, saya pun menoleh ke belakang dan mendapati bahwa korban yang menumpang mobil naas tersebut sudah berada di dalam mobil ambulans. Sekilas saya melihat kondisi korban yang lumayan parah, dengan adanya kucuran darah yang berasal dari kepala korban.

3. Seorang pengendara motor yang terjebak macet di jalan perlintasan kereta tersebut, beranjak dari motornya untuk turut menyaksikan proses evakuasi korban dan investigasi kecelakaan yang dilakukan oleh polisi.

4. Bayi yang berada di depan saya memandang heran pada kerumunan yang ada di belakang saya, dimana orang-orang meminggirkan kendaraan-kendaraan mereka, seraya ikut mengambil gambar melalui kamera ponse

5. Seorang pengendara motor melihat dengan raut wajah penasaran. Dan secara tidak sengaja saya merekam pula ekspresi yang sama dari 2 orang pengendara motor lainnya, yang memperlihatkan raut penasaran di wajah mereka tentang kejadian kecelakaan tersebut.

6. Setelah memarkirkan motor saya di tempat yang aman, saya pun berjalan mendekati TKP, dengan tujuan untuk dapat mengambil gambar lebih banyak lagi. Dan di lokasi kejadian pun, sudah banyak orang yang turut serta menjadi jurnalis dadakan seperti saya dengan menggunakan kamera dan teknologi layar sentuh dari gadgetnya. Mungkin hanya di momen seperti ini saja, tidak akan ditemui orang-orang yang melakukan aksi narsisme, seperti melempar senyum 3 jari dan berpose sambil memegang kepala di dekat lokasi kejadian.

7. Beberapa pengendara kendaraan masih terlihat memadati area di belakang batas perlintasan rel kereta. Hal ini dikarenakan selain terdapat kereta yang sedang melintas, para pengendara tersebut terlihat antusias untuk menyaksikan sisa-sisa kejadian yang berlangsung dengan cepat tersebut.

8. Seorang pengendara motor yang masih mengenakan helm, mendekati mobil yang mengalami kecelakaan tersebut. Sambil mengamati dengan seksama bagian-bagian dari mobil yang mengalami kerusakan parah.

9. Sebelum pamit dari lokasi kejadian, saya menyempatkan diri mengambil beberapa buah foto dari mobil naas tersebut. Dan menurut saya foto ini cukup menggambarkan bagaimana parahnya kondisi mobil tersebut, begitupula dengan kondisi para korban yang menumpang mobil tersebut.

Akhir kata, foto-foto diatas menjadi "buah tangan" yang saya bawa pulang bersamaan dengan perasaan was-was ketika melajukan motor saya. Sekiranya disiplin dalam berkendara dan kepatuhan terhadap peraturan dalam berlalu lintas dapat dilakukan demi menghindarkan diri dari kejadian yang tidak diinginkan, seperti kejadian diatas. Palang perlintasan kereta api/listrik dibuat bukan hanya untuk menandakan adanya kereta yang melintas, tetapi untuk membatasi jangkauan kendaraan agar terhindar dari kecelakan. Karena sudah banyak kecelakaan yang terjadi akibat kendaraan yang berusaha menerobos perlintasan kereta yang akan dilewati oleh kereta api/listrik. Dan jika aturan-aturan tersebut dilanggar, maka jangan salahkan kencangnya laju kereta yang dapat "melanggar" keberlangsungan hidup kita saat itu juga.